Kaum Revolusioner dan Parlemen
(Pengalaman Kaum Bolshevik)
(Bagian II, TAMAT)
Oleh: Maurice Sibelle
Tujuan dari aliansi Pemilu tersebut, sebagai keseluruhan taktik kaum Bolshevik, seperti yang dijelaskan Lenin, “‘untuk mengangkat’—bukan merendahkan—tingkat kesadaran kelas proletariat umumnya, semangat revolusi, kemampuan untuk berjuang dan untuk menang”. Lenin melanjutkan catatannya, bahwa:
Kaum borjuis kecil demokrat (termasuk Menshevik) tidak bisa menghindarkan dirinya berada dalam kondisi yang terombang-ambing antara kaum Borjuis dengan proletariat, antara demokrasi borjuis dan sistem Soviet, antara kaum reformis dan revolusioner... taktik kaum komunis yang benar harus konsisten memanfaatkan kebimbangan tersebut, bukan mengabaikan mereka; memanfaatkan seruan mereka untuk memberi kelonggaran-kelonggaran pada elemen yang dapat berubah menjadi pembela proletariat—sebagai tambahan untuk berjuang terhadap mereka yang berubah ke arah borjuis.
Pendidikan, pelatihan, dan pengorganisiran yang dilakukan kelas buruh dengan kelompok-kelompok aliansi untuk memenangkan perjuangan massa revolusioner merebut kekuasaan merupakan taktik Bolshevik dalam pemilu.
Sebaliknya, posisi Menshevik adalah merebut Duma dari tangan kaum reaksioner dengan jalan mendapatkan kursi yang lebih banyak bagi kelompok borjuis liberal. Mereka percaya bahwa perjuangan dalam kampanye Pemilu merupakkan posisi di tengah-tengah antara kaum reaksioner dan blok liberal padahal, seharusnya, mereka harus berada di kelompok kiri. Posisi yang diambil Menshevik pada saat itu, bila disamakan dengan kondisi saat ini, dilakukan oleh mereka yang percaya mensubordinasikan kerja-kerja (dalam rangka) Pemilu untuk mendukung Partai Buruh Borjuis Liberal melawan koalisi partai konservatif.
Sistem Pemilu
Sistem Pemilihan Duma merupakan sistem Pemilu yang benar-benar tidak demokratis. Perwakilan ditekankan untuk memastikan bahwa Duma yang simpatik dengan pemerintahan T’sar yang harus dipilih. Hanya ada enam (6) dari 442 anggota Duma yang dipilih dari kelas buruh. Meskipun dalam sebuah wilayah terdapat campuran pemilih yang berasal dari latar belakang kelas-sosial yang berbeda, hanya mereka yang membayar pajak dapat memiliki hak untuk memilih karenanya, dengan cara demikian, mayoritas buruh tidak dapat memiliki hak memilih. Pendaftaran pemilih dilakukan oleh Polisi yang menyeleksi orang-orang radikal. Di dalam persoalan hak pilih kelas buruh, hanya mereka yang sudah bekerja selama enam bulan dalam pabrik tertentu dapat memiliki hak suara. Panitia Pemilihan Umum bisa menolak calon yang tidak mereka sukai.
Proses para pemilihan dari kelas buruh adalah, pertama, memilih wakil bagi pertemuan berdasarkan pabrik (curias) yang, kemudian, memberikan suaranya bagi orang yang punya hak suara—mereka lah yang kemudian membentuk Dewan Pemililu untuk memilih anggota Duma. Proses tersebut penuh dengan manipulasi. Pemilihan dilakukan selama sehari atau dua hari. Calon dapat didiskualifikasi tanpa. Manager pabrik melaksanakan pemilihan di tempat kerja. Dalam situasi demikian, kaum Bolshevik dipaksa melakukan pertemuan rahasia. Pertemuan rahasia dilakukan di hutan untuk mendiskusikan calon mereka.
Dalam pertemua tersebut, Bolshevik menyusun sebuah sistematika kampanye dan menyusun semua tingkatan proses pemilihan. Mereka menolak calon non-partai. “Calon non-partai merupakan orang yang tidak mempunyai keyakinan dan, oleh karena itu, akan mudah terombang-ambing dalam jalan yang salah,” demikian mereka menjelaskan. Kepentingan kelas buruh dapat diwakilkan pada anggota partai yang posisinya sudah dikenal dan yang akan mampu mengkontrol perwakilan anggota.
Kaum Menshevik berpendapat dapat menyatukan tiket yang diserahkan pada kaum Sosial-Demokrat. Mereka berpendapat bahwa calon yang diambil oleh kaum Sosial-Demokrat harus dipilih dengan dasar kemampuan personal mereka. Tetapi, berbeda dengan Bolshevik, mereka berpedapat bahwa calon harus dipilih berdasarkan pada agenda (program) politik mereka; untuk menyatukan kedua pendapat tersebut terjadi perdebatan yang tajam yang, pada akhirnya, buruh dapat memilih perwakilannya berdasarkan pandangan politik mayoritas.
Siapapun yang terlibat dalam diskusi dengan partai sosialis-palsu dan partai Demokrat mengenai pemilu mungkin akan mengetahui dengan lebih jelas pandangan Menshevik. Menokohkan seseorang dengan kepopuleran calon anggota merupakan persoalan yanng penting bagi Menshevik ketimbang dengan program yang dibawa dari calon tersebut.
Kampanye Pemilu dan Aksi Massa
Kaum Bolshevik memanfaatkan segala kesempatan dalam kampanye Pemilu untuk memobilisasi massa dan melibatkan massa dalam kampanye. Tema kampanye massa berdebat sekitar pertanyaan-pertanyaan yang sangat panas pada saat itu. Penguasa melakukan segala cara untuk menghambat pemilu. Badayev menggambarkan hal itu sebagai berikut:
“Suasana saat Pemilu diadakan, yang tergesa-gesa melakukan ‘diskualifikasi’ perwakilan dari setengah pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan … di St Petersburg. Pemerintah bertindak terlalu jauh. Para buruh menjawab dengan gerakan protes yang sangat kuat.
Pabrik Putilov merupakan pabrik yang pertamakali mogok. Pada hari Pemilu, 5 Oktober, setelah makan siang, ketimbang kembali ke pabrik, para buruh lebih suka berkumpul di tempat mereka kerja dan meyatakan diri: mogok. Seluruh buruh pabrik keluar—hampir 14.000 buruh. Jam 3 pagi, beribu buruh meninggalkan pabrik dan berjalan ke arah pintu gerbang Narvsky menyanyikan lagu-lagu revolusi, tetapi mereka dibubarkan oleh polisi. Pemogokan menyebar luas ke galangan kapal Nevsky, tempat 6.500 buruh mengorganisir pertemuan dan demonstrasi politik. Mereka bergabung dengan buruh dari Pale dan Maxwell Will, buruh Aexeyev, dan lainnya. Hari berikutnya, buruh Erikson, Lessner, Heisler, Vulcan, Duflon, Phoenix, Cheshire, Lebedev, dan pabrik lain bergabung.
Pemogokan segera menyebar luas ke seluruh S.t Petersburg. Pemogokan tidak hanya terjadi di pabrik-pabrik di mana perwakilan anggotanya dibatalkan, tetapi pabrik-pabrik lain juga terlibat. Pertemuan-pertemuan dan demonstrasi-demonstrasi diorganisir. Beberapa pabrik mengkaitkan protes mereka dengan hambatan pembentukan serikat buruh yang, sejalan dengan itu, menolak penghapusan hak-hak buruh untuk ikut Pemilu. Seluruh isu pemogokan merupakan isu politik; tidak ada satupun isu ekonomis. Dalam sepuluh hari lebih, 70.000 buruh terlibat dalam pemogokan. Para buruh dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan hak suara mereka, mereka sadar apa artinya Pemilu bagi mereka, dan kerja-kerja semacam apa yang harus dilakukan wakil-wakil mereka di Duma nantinya.
Gerakan pemogokan terus berlanjut sampai pemerintah dapat dipaksa (diyakinkan) bahwa buruh tidak dapat dicabut haknya untuk terlibat dalam Pemilu dan, akhirnya, pemerintah dipaksa untuk mengumumkan bahwa Pemilihan Umum yang baru akan dilaksanakan tanpa kecurangan. Beberapa pabrik dan perusahaan, yang sebelumnya belum terlibat dalam pemilihan anggota, dimasukan dalam daftar wilayah pemilihan. Selanjutnya, pemilihan anggota harus dibatalkan dan pemilihan baru diadakan setelah ada penambahan delegasi yang dipilih. Itu merupakan kemenangan terbesar bagi kelas buruh dan, terutama, bagi proletariat di St. Petersburg, yang telah menunjukan kesadaran revolusioner sedemikian besar.
Pada pertemuan di Curia, Bolshevik memberikan daftar instruksi pada wakil mereka yang terpilih dalam hal apa yang harus didiskusikan dan disuarakan. Instruksi membicarakan cara untuk melibatkan pemilih, untuk mendiskusikan aturan perwakilan terpilih, dan memberikan mereka mandat bagi kerja-kerja mereka. Instruksi Bolshevik menyerukan anggotanya agar memanfaatkan Duma untuk mengkampanyekan tuntutan buruh dan bukan bertindak sebagai legislatif. Mereka mengikat perwakilannya pada kerangka kerja Bolshevik.
Persoalan itulah yang merubah Menshevik dan Bolshevik menjadi partai politik yang menunjuk wakil buruh (daerah pemilihan). Proses klarifikasi tersebut diikuti dengan kemenangan Bolshevik, yang merupakan kemenangan penting Bolshevik dalam memenangkan mayoritas suara buruh satu tahun kemudian ketika secara resmi Bolshevik dan Menshevik pecah menjadi dua partai yang terpisah.
Permulaan kampanye pemilu Bolshevik diidentikan dengan publikasi penerbitan legal pertama Bolshevik, Pravda, terbitan dengan empat halaman yang terbit setiap hari.Pravda menjadi alat prinsip untuk mempublikasikan kampanye dan mempopulerkan kerangka kerja pemilihan umum yang dilakukan partai.
Peredaran terbitan meningkat sekitar 40.000 per hari (hanya di St. Petersburg). Pravda menjadi alat penting di mana buruh bisa mendapat innformasi mengenai aktifitas wakil-wakil mereka. Pravda menjadi media utama bagi buruh untuk mengetahui pidato wakil-wakil mereka. Hanya sejumlah kecil media borjuis yang meliput aktifitas Boshevik. Bolshevik menyadari hal itu, dan Lenin memonitor perkembangan Pravda dari dekat seolah-olah ia melakukann sendiri kampanye Pemilu.
Enam dari 442 anggota yang dipilih dalam Duma IV adalah anggota Bolshevik. Hasil akhir dari pemilihan wakil-wakil partai di Duma adalah: 65 kaum kanan, 120 kaum nasionalis dan moderat, 98 kaum Oktobris, 48 progresif, 59 Kadet (Demokrat Konstitusional), 21 kelompok nasional, 10 Trudoviks (kaum intelektual, seperti Sosialis Revolusioner), 14 sosial-demokrat dan 7 Independen. Fraksi sosial-demokrat kemudian dibagi lagi menjadi 6 Bolshevik, 7 Menshevik, dan 1 wakil non-partai.
Perpecahan dalam Fraksi RSDLP
Menshevik dan Bolshevik terlibat dalam konflik sejak saat-saat sidang parlemen. Perdebatan terjadi pada persoalan mengenai hak anggota yang berasal dari Polandia. Sikap politiknya ditentang oleh PBSDR tetapi ia menyesuaiakan dirinya dengan Menshevik. Tekanan meningkat dalam fraksi dan menajam saat Bolshevik menarik diri dari keanggotaan majalah Menshevik, Luch. Menshevik memanfaatkan jumlah anggotanya dalam fraksi untuk memblokade juru bicara Bolshevik di Duma dan didalam komite, dan hal itu memaksa Bolshevik untuk lepas/pecah dari fraksi.
Pemilu yang memberi kesempatan kepada suatu partai untuk melakukan kecurangan, sebenarnya, hanya memberikan makna bahwa anggota Menshevik hanya mewakili 246.000 orang, sementara Bolshevik mewakili 1 Juta.
Setelah terjadi perpecahan, perdebatan mulai meluas di kalangan buruh. Bolshevik melakukan kampanye menentang Menshevik. Bolshevik menetapkan batasan-batasan, melakukan perdebatan dengan Menshevik di pabrik-pabrik dan menulis artikel di Pravda. Badayev memperkirakan bahwa mereka memenangkan dukungan sekitar 75% sampai 90% di kalangan buruh. Bolshevik memenangkan mayoritas kursi di Dewan Serikat Buruh, yakni 14 dari 18 suara.
Resolusi dukungan ke Bolshevik mengalir dari seluruh pelosok negeri. Bolshevik merupakan pilihan pasti dari kelas buruh.
Aksi Massa dan Kerja Parlemen
Kemenangan Bolshevik merupakan hasil dari usaha-usaha mereka yang konsisten dalam menghubungkan kerja mereka di Duma dengan aksi massa untuk mendukung perjuangan kelas pekerja. Bedayev menulis: “Tidak ada satu pabrik pun atau tempat-tempat kerja, bahkan yang lebih kecil, dimana aku tidak bisa dihubungkan dengan beberapa cara atau yang lainnya.”
Kekebalan relatif (yang dimiliki oleh anggota parlemen) dari tindakan polisi memberikan kesempatan kepada perwakilan pekerja untuk menjalankan aktifitas yang relatif terbuka. Mereka mengunjungi pabrik dan menerima delegasi dari pekerja. Mereka mengunjungi area dan pemukiman kelas-pekerja, berbicara dengan buruh, mengumpulkan informasi, dan menjalankan tugas internal partai.
Mulai hari pertama Duma dibuka, Bolshevik menggunakan setiap kesempatan untuk memobilisasi massa. Dalam seminggu 60.000 pekerja, seperempat populasi pekerja di St. Petersburg, melakukan mogok melawan perlakuan sembrono terhadap pelayar yang dituduh bersekongkol melakukan persiapan pemberontakan. Seperempat juta klas buruh bergabung dalam protes di seluruh Rusia.
Badayev menggambarkan persitiwa demi peristiwa saat buruh melakukan pemogokan dan malakukan protes jalanan untuk memenangkan tuntutan mereka. Isunya bermacam-macam dan beraneka ragam. Ledakan di dalam pabrik mesiu, usaha-usaha untuk memotong jam kerja, larangan bekerja dari pabrik-pabrik yang tidak produktif, bahkan perlakuan yang tidak adil dari atasan mereka, merupakan alasan yang cukup bagi buruh untuk melakukan aksi. Wakil Bolshevik di Duma secara aktif mengkampanyekan dukungan mereka pada pemogokan-pemogokan dan aksi protes. Mereka memanfaatkan kekebalan parlemen untuk melakukan investigasi pada persoalan-persoalan di pabrik. Mereka bernegosiasi dengan pemerintah atas nama buruh, selalu melaporkan kembali ke buruh hasil dari diskusi mereka. Mereka mengorganisasikan dana pemogokan dan mengumpulkannya dari seluruh negeri.
Pravda merupakan alat sentral kerja-kerja tersebut. Surat kabar tersebut itu memuat artikel-artikel tentang perjuangan. Kedekatan hubungan dengan buruh menyebabkan Bolshevik memanfaatkan Duma dalam cara yang revolusioner.
Fraksi Duma dan Partai .
Melalui partisipasi aktif mereka dalam perjuangan kelas buruh, anggota fraksi Bolshevik di Duma mendapatkan respon positif dari buruh. Mereka menduduki posisi yang tepat dalam kerja-kerja semi-legal partai. Tanggungjawab utama mereka bukan kerja-kerja legislatif tetapi menjalankan sejumlah aktifitas buruh yang merupakan aktifitas legal dari partai revolusioner yang berjalan dalam kondisi Ilegal. Mereka membantu menyusun kesalahan surat jalan, menyusun konferensi, menggali dana dan menerbitkan majalah-majalah.
Badayef diberi tugas untuk menerbitkan koran. Keseluruhan perjuangan mereka ditulis di Pravda. Anggota editorial menjadi sentral aktifitas pergerakan. Perwakilan di Duma harus melakukan kunjungan kepada pemilih mereka, bukan hanya untuk berkonsultasi dengan buruh tetapi untuk memfasilitasi pertumbuhan partai dan cabang-cabangnya. Fraksi itu sendiri menjadi pusat penggorganisasian bagi Partai Bolshevik.
Dalam segala hal, mereka bertindak di bawah instruksi langsung dari pemimpin Partai. Ada beberapa pertemuan antara wakil Bolshevik dan Komite Pusat Partai. Badayef melukiskan hasil salah satu kunjungan tersebut sebgai berikut ;
“Kami kembali dari Krawkow, bersenjatakan instruksi praktek kongkrit. Kebijaksanaan umum tersebut dijalankan oleh 6 anggota Bolshevik, yang merupakan gambaran jelas dan juga rinci, seperti kepada siapa mereka harus berbicara mengenai berbagai pertanyaan, materi yang harus disiapkan terlebih dahulu, tugas mendesak yang harus dilakukan di luar Duma. … Lenin merupakan figur yang sangat penting bagi kami.”
Lenin mengirim pertanyaan-pertanyaan dengan rinci kepada seluruh anggota Duma. Ia menulis beberapa pidato yang harus dibacakan di Duma. Sebagai anggota fraksi di parlemen, ada tekanan tertentu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan Parlemen. Lenin mendesak mereka untuk mengambil posisi yang lebih keras pada beberapa persoalan, khususnya menyangkut perang yang pecah pada tahun 1914.
Fraksi Bolshevik merupakan satu contoh yang penting dari fraksi Parlemen Revolusioner. Beberapa tahun kemudian, diketahui bahwa pimpinan anggota Bolshevik ternyata seorang agen polisi. Disiplin di dalam fraksi merupakan hal yang sangat bagus ketika Roman Malinovsky, seorang agen polisi, menjadi salah satu juru bicara terbaik Bolshevik di Duma. Ketika Perang Dunia antara imperialis pecah pada tahun 1914, Bolshevik merupakan satu dari beberapa Partai social-demokrat yang menentang perang tersebut. Anggota Bolshevik di Duma menolak mendukung pemerintah dalam persoalan perang, mengutuk perang imperialis dan keluar dari pertemuan (walk out)Parlemen. Mereka kemudian ditahan setelah mekakukan Konferensi yang menjelaskan sikap mereka. Mereka dihukum dengan kerja keras di Siberia. Penangkapan tersebut memprovokasi munculnya demonstrasi, dan memberikan kesempatan Bolshevik untuk menjelaskan kepada Massa tentang ketidaksetujuan mereka tentang perang.
Oposisi terbuka mereka terhadap persoalan perang membuat Rejim T’sar mempunyai alasan untuk mengawasi Bolshevik dengan lebih ketat. Dengan anggota fraksi Parlemen yang dipenjara dan koran partai yang diambil alih oleh Rejim T’sar, Bolshevik tidak dapat mengkampanyekan gerakan anti-perang dalam skala luas. Di bawah serangan propaganda patriotik yang terus menerus dari Rejim T’sar dan borjuis Liberal, menyebabkan posisi massa berubah dari menolak perang menjadi mendukung perang.
Bagaimanapun juga, kerugian yang diakibatkan oleh pecahnya perang mengakibatkan meningkatnya ketidakpuasan sosial pada tahun 1916 yang menyebabkan, akhirnya, meletus pemberontakan pada Februari, 1917, yang menyapu bersih monarki dan parlemen—diganti kekuasaan ganda (dual power) yang ditunjuk sendiri oleh Pemerintahan Sementara—yang didominasi oleh partai Kadet Borjuis-Liberal—di satu sisi dan, di sisi lain, musuh mereka—yakni Dewan Perwakilan Buruh dan Prajurit (Soviet of Worker’s and Soldiers Deputies)—yang awalnya didominasi oleh kaum demokrat borjuis-kecil, yaitu Menshevik dan partai Sosialis Revolusioner.
Sehubungan dengan masa pergolakan pada tahun 1917, pengaruh Bolshevik secara perlahan dikalahkan oleh kaum demokrat borjuis-kecil dalam barisan kaum buruh, kemudian di kalangan tentara dan petani. Mereka menang secara mayoritas di St. Petersburg dan Soviet Moscow setelah mereka memimpin perlawanan massa melawan usaha kudeta Jendral Kurnilov yang dilakukan pada September, 1917, dan atas dasar tersebut mayoritas mendukung mereka memimpin pemberontakan pada 7 November, 1917 (dalam kalender T’sar tanggal 25 Oktober) hingga, akhirnya, mengalihkan seluruh kekuasaan pada Sovyet pada Konggres II Seluruh Rusia.
Keterlibatan Bolshevik dalam pemilu pada periode 1912-1914 merupakan aspek yang sangat penting dalam keberhasilan revolusi Oktober, 1917. Keterlibatan mereka dalam kampanye pemilu, keterlibatan mereka dalam Duma dan dalam pidato-pidato politik mereka, yang dikombinasikan dengan kerja-kerja mereka dalam pabrik dan lingkungan sekitarnya memungkinkan mereka membangun basis dalam kelas pekerja. Ketika pemimpin Bolshevik kembali setelah februari 1917, beberapa basis kelas pekerja yang telah mereka bangun sebelum perang masih tetap eksis. Hal ini menyebabkan, sepanjang tahun 1917, organisasi Bolshevik, yang anggota inti revolusioner-profesionalnya berjumlah relatif kecil, yakni 20.000 anggota, menjadi partai massa aksi revolusi, dengan 240.000 anggota pada saat Revolusi Oktober.
Pelajaran dari pengalaman Bolshevik
Pengalaman Bolshevik dalam Duma T’sar pada tahun 1912-1914 memberikan pelajaran-pelajaran berharga bagi gerakan sosialis saat ini. Bolsheviks memperlihatkan bahwa pemilihan parlemen dapat dijadikan ajang revolusi sosialis dengan kesempatan yang sangat penting dalam kerja-kerja politik legal; bahwa parlemen dapat dimanfaatkan oleh kaum revolusioner sebagai alat untuk mencapai dan mendekatkan dirinya kepada kelas buruh; yaitu dapat dipakai untuk memerangi pengaruh liberalisme di kalangan kelas pekerja; dapat dipakai untuk mengorganisir dan memobilisasi kelas buruh dan melakukan aliansi untuk perjuangan revolusioner merebut kekuasaan politik. Pengalaman Bolshevik memperlihatkan bahwa revolusi dapat memanfaatkan parlemen sebagai kerangka kerja aktifitas revolusioner, tanpa melakukan penyelewengan dan mengambil tanggung jawab pemerintah dan kebijaksanaannya; bahwa kerja-kerja parlemen dapat memainkan peranan sentral di dalam keseluruhan lingkup aktifitas partai. Lenin tidak melihat kerja-kerja pemilu dalam periode meningginya radikalisasi sebagai aktifitas pinggiran dan sambilan. Hal itu bukan merupakan tanggung jawab rutin tetapi tanggung jawab pusat partai, membutuhkan mobilisasi kekuasaan yang sangat besar, inspirasi politik, dan perhatian yang sangat besar dan rinci.
Kampanye pemilihan Sosialis dapat digunakan untuk menggambarkan Massa dalam aktifitas ekstra-parlemen. Seruan untuk melakukan boikot pemilihan parlemen, sebagai sebuah taktik yang syah, harus digunakan secara hati-hati. Seperti resolusi dalam Partai Komunis dan Parlemen yang diambil dikeluarkan pada konggres Komunis Internasional yang kedua, yang diselenggarakan pada tahun 1920, menjelaskan:“Boikot dalam pemilihan Parlemen, atau mengabaikan Parlemen adalah dimungkinkan, terutama ketika kondisi transisi ke perjuangan bersenjata bisa segera dilakukan,” seperti ketika massa sudah siap untuk mendukung pemberontakan bersenjata untuk menghancurkan sistim Parlemen.
Partisipasi yang dilakukan kaum revolusioner didalam pemilihan parlemen adalah dimungkinkan karena hal itu memberikan kerangka kerja perjuangan untuk menghancurkan ilusi parlemen secara lebih efektif ketimbang sekedar mencela parlemen dari luar parlemen.
Kaum Bolshevik memperlihatkan bahwa perwakilan parlemen, dalam rangka menjaga garis prinsip mereka dan untuk mengefektifkannya, harus disubordinasikan kedalam partai sebagai kesatuan. Perwakilan parlemen sosial-demokratik Eropa Barat sudah mewujudkan prinsip mereka dalam hal kerja-kerja palemen. Mereka mendukung perang imperialis, berlawanan dengan resolusi sebelumnya yang diambil dalam kongres partai mereka. Mereka menyesuaikan diri dengan kapitalisme. Mereka mulai melihat parlemen sebagai alat untuk memenangkan reformasi legislatif didalam ‘kepentingan kelas buruh‘ dan menguntungkan karir parlementer mereka sendiri .
Tentu saja, hal tersebut merupakan hasil dari berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat yang relatif damai ketimbang ‘ledakan’ panjang dari tahun 1893-1913. Kampanye parlemen tidak dilihat lagi sebagai bagian dari perjuangan Massa melawan kapitalisme. Kampanye Pemilu harus dilihat sebagai alat memenangkan reformasi bertahap dalam kerangka kerja sistim kapitalis.
Semantara, di sisi lain, sikap Bolshevik terhadap parlemen berdasarkan kesimpulan bahwa Parlemen Bourjuis dengan cara bagaimanapun juga tidak dapat dipakai sebagai arena perjuangan reformasi, atau untuk meningkatkan jumlah pendukung dari kelas buruh. Arti penting dari memenangkan reformasi adalah memobilisasi Massa klas buruh—seperti pemogokan, arak-arakan di jalanan, pengambilalihan pabrik dan sebagainya. Kerja Parlementer hanya dapat dibantu dengan strategi aksi Massa tersebut .
Bolshevik masih berkeyakinan terhadap pelajaran yang digambarkan oleh Marx dan Engel dari pengalaman revolusi abad ke-19, menolak Parlemen, sebagai bentuk negara; mereka memahami bahwa hanya bentuk negara yang berdasarkan organ sentralis-demokratis kekuasaan Buruh—seperti pengalaman Komune Paris pada tahun 1871 atau Soviet pada tahun 1905—yang dapat memenuhi kebutuhan kelas buruh. Mereka menolak kemungkinan memenangkan perjuangan lewat parlemen; dan mereka memahaminya sebagai hanya satu kemungkinan untuk berbicara mengenai pemanfaatan intitusi negara kapitalis dalam persoalan penghancuran Parlemen.
Dalam resolusinya, mereka menyatakan dengan jelas bahwa metode utama dari perjuangan kelas buruh melawan aturan kapitalis adalah dengan menggunakan metode aksi Massa; meskipun penting, taktik parlemen merupakan pelengkap dan subordinat. Mereka menjalankan kampanye pemilu yang bukan merupakan tugas utama untuk memporoleh suara tetapi membangun aksi anti kapitalis—melalui propaganda, agitasi dan organisasi—yang melibatkan bukan hanya calon dan pemimpin partai tetapi juga massa klas buruh. Yakni, mereka memanfaatkan kampanye pemilu—berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sistim Parlemen selama ini—untuk menarik Massa kedalam aktifitas politik bukan melarang mereka terlibat didalamnya .
Itulah pelajaran positif pengalaman Bolshevik dalam memanfaatkan Parlemen untuk revolusi, dan pelajaran yang mereka peroleh dari kaum opurtunis parlemen, yakni kaum reformis sosial-demokrat Eropa Barat, sebagaimana tesis yang disusun ini diambil dalam Konggres II Komunis Internasional pada tahun 1920, yang tertuang dalam The Communist Parties and Parliamentarism (Partai-partai Komunis dan Parlementerisme).
Dalam pampletnya tentang taktik Marxis—Left-Wing” Communism: An Infantile Disorder—yang ditulis dan disebarkan untuk delegasi pada masa konggres Komintern II, Lenin menjelaskan bahwa di dalam negara kapitalis maju, “…massa buruh yang terbelakang dan—bahkan dalam tingkat yang lebih besar—sebagian petani lebih banyak dipengaruhi oleh demokrasi bourjuis dan prasangka parlemen dibandingkan dengan mereka yang ada di Rusia; oleh karena itu, hanya melalui (dari dalam semacam) institusi parlemen bourjuis kaum Komunis dapat (dan harus) melancarkan dan berjuang secara konsisten, tak gentar oleh kesukaran, untuk membongkar, menghilangkan dan mengatasi prasangka tersebut”.
Belajar dari pengalaman aktifitas parlemen kaum Bolshevik, dapat memberikan pelajaran yang berharga dalam membimbing kita melakukan tanggung jawab tersebut.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar