Cari Blog Ini

Kamis, 30 September 2010

Skema Imperialis Kapitalis dalam Skenario G30S

Hari ini tepat 45 tahun yang lalu kudeta militer 1965 menghasilkan kemenangan kekuasaan militer, yang mewarisi perusahaan-perusahaan Belanda yang dinasionalisasi, telah mendorong ekonomi Indonesia terintegrasi kembali ke modal internasional dengan konsekuensi negatif terhadap Indonesia—industrialisasi dalam negeri yang tidak terbangun karena produksi berorientasi ekspor (sebagaimana kini tampak mencolok dalam produksi batu bara dan kelapa sawit serta bahan tambang lainnya) dantenaga kerja Indonesia hanya menjadi buruh berupah murah serta alamnya dirusak.

Upaya membangun ekonomi (substitusi impor) juga pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, terutama dengan mengandalkan pendapatan minyak pada tahun 1970-an. Namun hal tersebut tidak berkembang (faktor korupsi dan juga skema ekonomi neoliberal yang tidak menghendaki industri negara dunia ketiga berkembang meramaikan kompetisi internasional).

Dibutuhkan kembali nasionalisasi di bawah kontrol rakyat agar surplus produksi bisa diabdikan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat (pendidikan, kesehatan, budaya, dan lain-lain), bukan memperkaya segelintir pemodal yang terintegrasi dengan modal luar negeri (pasar, teknologi dan modal). Hal tersebut membutuhkan pembangunan organisasi dan pemulihan memori sejarah rakyat akan masa lampau, di mana rakyat bersiasat untuk bertahan dalam hidup sehari-hari dan berjuang melawan modal internasional, sebuah aspek yang dihilangkan oleh kekuatan Orde Baru, yang telah terbukti tidak berdaya menghadapi gempuran modal internasional, yang kini juga sudah menunjukkan tanda-tanda krisis yang semakin parah.

Mengambil contoh Kuba, dengan sosialisasi alat produksi (nasionalisasi di bawah kontrol rakyat), sebuah negeri miskin, yang diembargo oleh Amerika Serikat dan rawan bencana, namun mampu mengabdikan sumber daya alam yang ada dan surplus produksinya untuk peningkatan pendidikan, kesehatan dan program-program produksi yang ramah lingkungan (seperti pertanian organik secara massal). Indonesia, dengan sumber daya yang berlimpah (hadiah terbesar bagi Amerika Serikat di Asia Tenggara, Nixon pernah menyebutnya), maka tujuan untuk mensejahterakan rakyat umum tersebut lebih memiliki landasan material, tinggallah bagaimana pembangunan dan pengelolaan organisasi perjuangan untuk mewujudkannya.

Senin, 27 September 2010

Surat Che Guevara untuk Kawan-kawan Muda


Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yg sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.(che guevara)

Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yg padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yg berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Ku pilih tinggal beserta berjuang di hutan karna disana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

Andai aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negergnu. Pastilah aku enggan untuk duduk dikursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan ku sapa setiap anak lapar yang menjinjing bekal botol minuman untuk mendapa uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan ku bantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan ku temani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Ku rasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal. Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah.Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku suda hapal mana tabiat srigala dan mama watak kelinci.Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa menyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian. Menonton orang-orang pandai berdebat dimuka televisi atat aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis senior yang kini juga berdebat untuk duduk jadi penguasa. Katanya: didalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku bilang, itulah para pembual yang yakin perubahan bisa muncul karna kita duduk dibelakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua.

Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, xang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian. Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun..! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai.Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang, dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kita hidup!


Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk.Hutan membuatku selalu awas dengan kenangan, kedamaian, dan cicit suara burun. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Ku tinggalkan jabatan mentri karna hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu. Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman.

Rasa nyaman yang kini ku saksikan disekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yg duduk di parlemen malah minta tambahan gaji. Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karna ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan dan kelincahan berdebat. Aku ragu, apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus.

Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua. Murah sekali harga seorang aktivis yg dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuan yang mau menyajikan data bnhong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi.Aku gusar memandang negerimu yang tidak punya ksatria pemberani. Seorang ksatria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan.Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapaman, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa.

Yang kau hadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu oran. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau berlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu merubah. Kau kemudian percaya bahwa pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi. Kau yakin perubahan bisa berjalan bila dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis malam.

Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantra: LAWAN! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan. Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele.Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggung jawap. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu ku kerjakan oleh gerakan sosial diberbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi. Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.


Danial Indrakusuma

Sabtu, 18 September 2010

Kaum Intelektual dan Sosialisme


Ditulis oleh Leon Trotsky (1910) 
Sepuluh tahun yang lalu, atau bahkan enam atau tujuh tahun yang lalu, para pembela pemikiran sosiologi Rusia yang subjektif (yakni kaum “Sosialis Revolusioner[1]”) mungkin telah berhasil menggunakan brosur terbaru dari ahli filosofi dari Austria, Max Adler[2], untuk kepentingan mereka. Akan tetapi, selama lima atau enam tahun terakhir, kita telah melalui “pemikiran sosiologi” yang cermat dan objektif, dan pelajaran-pelajarannya tertulis pada tubuh kita di bekas-bekas luka yang sangatlah ekspresif, dimana contoh yang paling baik dari kaum intelektual, bahkan yang datang dari pena “Marxis” Max Adler, tidak akan bisa membantu subjektivisme Rusia. Sebaliknya, nasib dari kaum subjektivis Rusia adalah sebuah argumen yang paling serius terhadap gagasan-gagasan dan kesimpulan-kesimpulan Max Adler.

Subyek dari brosur ini adalah hubungan antara kaum intelektual dan sosialisme. Bagi Adler, ini bukan hanya sebuah masalah analisa teori tetapi juga masalah hati nurani. Ia ingin meyakinkan orang-orang. Brosur Adler, yang berdasarkan pidato yang dia berikan pada kaum pelajar sosialis, dipenuhi dengan keyakinan yang kuat. Semangat untuk merubah keyakinan seseorang memenuhi brosur kecil ini, dan ini memberikannya sebuah nuansa yang spesial pada ide-ide yang tidak baru ini. Untuk memenangkan kaum intelektual ke idenya, untuk meraih dukungan mereka dengan cara apapun, hasrat politik tersebut benar-benar menutupi analisa sosial di dalam brosur Adler. Dan ini memberikannya sebuah nada yang partikular, dan merupakan kelemahannya.

Apa itu kaum intelektual? Tentu saja Adler memberikan konsep ini bukan sebuah definisi moral tetapi sebuah definisi sosial: kaum intelektual bukanlah sebuah kelompok yang terikat oleh sebuah hukum sejarah, tetapi sebuah strata sosial yang meliputi semua pekerjaan “otak”. Bagaimanapun sulitnya untuk menarik garis demarkasi antara kerja “manual” dan “otak”, ciri-ciri sosial umum dari kaum intelektual cukup jelas, tanpa perlu menuju ke detil-detil. Kaum intelektual adalah sebuah kelas tersendiri – Adler menyebut mereka sebuah kelompok inter-kelas [yang dimaksud disini adalah sebuah kelompok yang tidak terikat pada satu kelas saja – Ed.], tetapi pada esensinya tidak ada perbedaan – yang eksis di dalam kerangka masyarakat borjuasi. Dan bagi Adler pertanyaannya adalah: siapa yang memiliki hak untuk memiliki jiwa dari kelas ini? Apa ideologi yang menjadi dasarnya, sebagai hasil dari fungsi sosialnya? Adler menjawab: ideologi kolektivisme. Adler tidak menutupi matanya dari kenyataan bahwa kaum intelektual Eropa, selama mereka tidak menentang ide kolektivisme, berdiri mengambang jauh dari kehidupan dan perjuangan rakyat pekerja, tidak panas dan tidak dingin. Tetapi semua tidak harus seperti itu, kata Alder, tidak ada basis objektif yang cukup untuk itu. Adler secara pasti menentang kaum Marxis yang menyangkal keberadaan kondisi-kondisi umum yang dapat menyebabkan sebuah gerakan massa kaum intelektual menuju sosialisme.

Dia menyatakan di pembukaannya “Ada faktor-faktor yang memadai – walaupun bukan faktor ekonomi secara murni, tetapi dari lingkupan yang lain – yang dapat mempengaruhi seluruh massa kaum intelektual, bahkan terlepas dari situasi kehidupan kaum proletar, faktor-faktor yang dapat menjadi motif yang cukup bagi mereka untuk bergabung dengan gerakan buruh sosialis. Kaum intelektual hanya perlu dibuat sadar akan sifat dasar utama dari gerakan ini dan posisi sosial mereka.” Apa faktor-faktor ini? Adler mengatakan, “Karena kesakralan, dan terutama, peluang untuk perkembangan kepentingan spiritual yang bebas adalah kondisi kehidupan kaum intelektual yang utama, oleh karena itu kepentingan intelektual adalah sama dengan kepentingan ekonomi. Maka, bila basis bagi kaum intelektual untuk bergabung dengan gerakan sosialis harus dicari di luar lingkupan ekonomi, ini adalah karena persyaratan eksistensi ideologi tertentu untuk kerja mental daripada isi kebudayaan sosialisme” (halaman 7). 

Terlepas dari karakter kelas seluruh gerakan (toh, gerakan hanyalah sebuah jalan!), terlepas dari gambaran partai-politik sehari-hari (toh, partai politik hanyalah sebuah alat!), sosialisme pada dasarnya, sebagai sebuah ide sosial yang universal, berarti pembebasan semua bentuk kerja otak dari segala macam belenggu dan batasan sejarah. Premis ini, visi ini, menyediakan jembatan ideologi dimana kaum intelektual Eropa dapat dan harus lewati untuk menuju ke kamp Sosial Demokrasi[3].

Ini adalah titik pandang Adler yang utama, yang merupakan isi dari seluruh brosurnya. Kekeliruan utamanya, yang segera mencuat ke mata kita, adalah karakternya yangnon-historis. Dasar sosial bagi kaum intelektual untuk memasuki kamp kolektivisme yang digunakan oleh Adler sudah ada sejak dulu; akan tetapi tidak ada sama sekali gerakan massa intelektual menuju Sosial Demokrasi di negara Eropa manapun. Tentu saja Adler tahu hal ini seperti juga kita. Tetapi dia cenderung melihat terasingnya kaum intelektual dari gerakan kelas pekerja adalah karena kaum intelektual tidak memahami sosialisme. Pada satu pihak ini benar. Tetapi bila begitu apa penjelasan untuk ketidakpahaman ini, yang eksis bersama-sama dengan pemahaman mereka akan hal-hal yang lebih kompleks? Jelas, ini bukan karena kelemahan logika ideologis mereka, tetapi karena kekuatan elemen-elemen irasional di dalam psikologi kelas mereka. Adler sendiri berbicara mengenai ini di dalam babnya Bürgerliche Schranken des Verständnisses (Batas Pemahaman Kaum Borjuis), yang merupakan salah satu bab terbaik di dalam brosur tersebut. Tetapi dia berpikir, dia berharap, dia yakin – dan disini sang teoritis menjadi pengkhotbah – bahwa Sosial Demokrasi Eropa akan bisa menghancurkan elemen-elemen irasional di dalam mentalitas pekerja-otak bila saja Sosial Demokrasi merekonstrusi logika hubungannya dengan mereka [baca kaum intelektual – Ed.]. Kaum intelektual tidak memahami sosialisme karena sosialisme dari hari-ke-hari tampak bagi mereka ada dalam bentuk rutinnya sebagai sebuah partai politik, seperti yang lainya. Tetapi bila kaum intelektual bisa ditunjukkan wajah sosialisme yang sesungguhnya, sebagai sebuah gerakan kebudayaan sedunia, mereka pasti akan bisa melihat harapan dan aspirasi mereka yang terbaik. Begitulah pikir Adler.

Kita sudah sampai sejauh ini tanpa memeriksa apakah benar persyaratan kebudayaan murni (perkembangan teknik, ilmu pengetahuan, kesenian) jauh lebih kuat, sepanjang kaum intelektual disangkutkan, daripada pengaruh kelas dari keluarga, sekolah, gereja, dan negara, atau kepentingan material. Dan bahkan bila kita menerima ini sebagai argumen, bila kita setuju untuk melihat bahwa kaum intelektual adalah pendeta kebudayaan yang sampai sekarang hanya gagal melihat bahwa penumbangan rejim borjuis dengan sosialisme adalah cara terbaik untuk melayani kepentingan kebudayaan, pertanyaan yang utama tetap adalah: dapatkah Sosial Demokrasi Eropa Barat menawarkan kaum intelektual, secara teori dan moral, sesuatu yang lebih meyakinkan atau lebih menarik daripada apa yang sudah ditawarkan sampai sekarang?

Kolektivisme sudah memenuhi dunia dengan suara perjuangannya selama berpuluh-puluh tahun. Selama periode ini jutaan buruh telah bersatu di dalam organisasi politik, serikat buruh, koperasi, organisasi pendidikan, dan organisasi-organisasi lainnya. Seluruh kelas telah bangkit dari dasar kehidupan dan memaksa masuk ke dalam politik, yang sampai sekarang dianggap sebagai hak tunggal dari kelas yang berada. Setiap hari, koran-koran sosialis – koran teori, politik, serikat buruh – mengevaluasi ulang semua nilai-nilai borjuis dari sudut pandang sebuah masyarakat yang baru. Tidak ada satupun masalah mengenai kehidupan sosial dan kebudayaan (perkawinan, keluarga, sekolah, gereja, tentara, patriotisme, kebersihan sosial, prostitusi) yang tidak dipertentangkan dengan nilai-nilai sosialisme. Sosialisme berbicara dalam semua bahasa kemanusiaan yang berbudaya. Di dalam gerakan sosialis ini, orang-orang dengan pemikiran yang berbeda-beda dan bermacam temperamen, dengan masa lalu, hubungan sosial, dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda, mereka semua saling bekerja dan saling berseteru. Dan bila kaum intelektual tetap “tidak memahami” sosialisme, bila semua ini tidak cukup untuk membuat mereka, mendorong mereka untuk mengerti pentingnya gerakan sedunia ini secara historis dan kultural, maka bukankah kita harus menarik kesimpulan bahwa alasan dari ketidakpahaman ini sangatlah mendasar dan usaha-usaha untuk mengatasi ini dengan teori dan tulisan adalah tidak berguna sama sekali?

Gagasan ini menonjol bahkan lebih jelas bila kita melihat sejarah. Influks kaum intelektual yang terbesar ke dalam gerakan sosialis – dan ini benar di seluruh negara Eropa – terjadi di periode awal dari keberadaan partai pekerja, ketika partai tersebut masih muda. Gelombang influks pertama ini membawa ahli-ahli teori dan politisi yang paling terkemuka ke dalam Internasionale Kedua[4]. Semakin Sosial Demokrasi Eropa tumbuh besar, semakin banyak rakyat pekerja yang bergabung, dan semakin lemah (bukan hanya secara relatif tetapi juga secara absolut) influks elemen-elemen baru dari kaum intelektual. Koran Leipziger Volkszeitung lama mencari dengan sia sia, melalui iklan koran, seorang pekerja editor dengan pendidikan universitas. Disini kita terpaksa menerima sebuah kesimpulan, sebuah kesimpulan yang bertentangan dengan Adler: semakin sosialisme menampakkan isinya secara tegas, semakin mudah bagi setiap orang untuk memahami tugas sosialisme di dalam sejarah, dan semakin kecut kaum intelektual terhadap sosialisme. Walaupun ini bukan berarti mereka takut akan sosialisme sendiri; jelas kalau di negara-negara kapitalis Eropa telah terjadi perubahan-perubahan sosial yang dalam yang menghalangi pergaulan antara orang-orang universitas dengan buruh, pada saat yang sama dimana perubahan-perubahan sosial tersebut telah memfasilitasi masuknya buruh ke dalam gerakan sosialis.

Apa perubahan-perubahan tersebut? Individu-individu, kelompok-kelompok, dan strata kaum proletar yang paling cerdas telah bergabung dan sedang bergabung ke Sosial Demokrasi. Pertumbuhan dan konsentrasi industri dan transportasi hanya mempercepat proses ini. Sebuah proses yang sepenuhnya berbeda sedang terjadi di dalam kelompok intelektual. Perkembangan kapitalisme yang besar dalam dua dekade terakhir sudah mengikis lapisan atas dari kelas ini. Kekuatan intelektual yang paling cakap, yakni mereka yang memiliki inisiatif dan kreatifitas, telah dihisap oleh industri kapitalis, oleh sindikat-sindikat, perusahaan-perusahaan rel dan perbankan, yang membayar mereka gaji yang sangat besar untuk mengorganisasi rejim mereka. Hanya kaum intelektual kacangan yang tersisa untuk pelayanan negara dan kantor-kantor pemerintah; dan editor-editor koran dari semua tendensi mengeluh mengenai kekurangan “orang”. Dan perwakilan dari kaum intelektual semi-proletar yang jumlahnya semakin meningkat, mereka tidak dapat lari dari kehidupan yang selamanya tergantung pada orang lain dan secara material tidak aman. Bagi mereka, yang melakukan fungsi yang tidak lengkap dan rendah mutunya di dalam mekanisme kebudayaan yang besar, daya tarik kebudayaan yang diajukan oleh Adler tidak cukup kuat dengan sendirinya untuk mengarahkan simpati politik mereka kepada gerakan sosialis.

Terlebih lagi adalah situasi dimana setiap kaum intelektual Eropa yang secara psikologi bisa pindah ke kamp kolektivisme tidak memiliki harapan untuk bisa meraih posisi yang berpengaruh di partai-partai proletar. Ini adalah satu hal yang penting. Seorang buruh menjadi seorang sosialis sebagai sebuah bagian dari keseluruhan, bersama-sama dengan kelasnya, dimana dia tidak punya prospek untuk keluar dari kelasnya. Dia bahkan puas dengan perasaan persatuan moral dengan rakyatnya, yang membuatnya lebih percaya diri dan kuat. Akan tetapi kaum intelektual menjadi seorang sosialis sebagai seorang individu, dengan memutuskan tali pusat kelasnya sebagai seorang individu, dan secara tak terelakkan berusaha untuk menggunakan pengaruhnya sebagai seorang individu. Tetapi disinilah dia terbentur oleh rintangan-rintangan – dan seiring waktu berjalan rintangan ini semakin bertambah besar. Pada permulaan gerakan Sosial Demokrasi, setiap kaum intelektual yang bergabung ke Sosial Demokrasi, bahkan bila dia bukan di atas rata-rata, dapat meraih sebuah posisi di gerakan kelas pekerja. 

Sekarang setiap pendatang-baru menemukan, di negara-negara Eropa Barat, struktur demokrasi kelas-pekerja yang kolosal sudah eksis. Ribuan pemimpin buruh, yang secara otomatis datang dari kelas mereka, membentuk sebuah aparatus yang solid dimana diatasnya berdiri veteran-veteran aktivis buruh yang terhormat, yang memiliki otoritas, figur-figur yang telah menjadi sejarah. Hanya seorang yang memiliki bakat luarbiasa yang dapat berharap untuk meraih posisi kepemimpinan untuk dirinya – tetapi orang seperti itu, daripada meloncati jurang menuju sebuah kamp yang asing baginya, dia biasanya akan mengikuti jalan yang rintangannya paling kecil, yakni bekerja sebagai pelayan negara atau industri. Selain semua itu, di antara kaum intelektual dan sosialisme berdiri sebuah tembok, yakni aparatus organisasi Sosial Demokrasi. Aparatus organisasi ini membuat tidak senang para intelektual yang memiliki simpati sosialis, karena aparatus ini menuntut disiplin dan sikap menahan-diri; ini kadang tidak sesuai dengan “oportunisme” mereka, dan juga kadang tidak sesuai dengan “radikalisme” mereka yang berlebihan, dan ini menakdirkan mereka ke peran penonton yang ribut yang terombang-ambing antara anarkisme dan liberalisme-nasional. Simplicissimus[5]adalah panji ideologi mereka yang tertinggi. 

Dengan modifikasi yang berbeda-beda dan dengan kadar yang berbeda-beda, fenomena ini terulang di semua negara di Eropa. Orang-orang ini, lebih daripada kelompok-kelompok lainnya, terlalu sombong dan terlalu sinis untuk bisa menerima arti penting kebudayaan dari sosialisme ke dalam jiwa mereka. Hanya sedikit sekali “kaum ideolog” – dengan konotasi baik dan buruknya – yang dapat meraih keyakinan sosialisme di bawah stimulus pemikiran teori murni, dengan, sebagai titik tolak mereka, tuntutan hukum seperti Anton Menger[6], atau persyaratan teknik seperti Atlanticus[7]. Tetapi bahkan kasus-kasus seperti ini, seperti yang kita ketahui, biasanya tidak bergerak terlalu jauh dari gerakan Sosial-Demokrasi, dan perjuangan kelas proletar di dalam hubungan internalnya dengan sosialisme bagi mereka tetap merupakan sebuah buku yang terkunci dengan tujuh segel.
***
Dengan mempertimbangkan bahwa tidaklah mungkin memenangkan kaum intelektual ke kolektivisme dengan sebuah program yang bersifat material, Adler sungguh benar. Tetapi ini tidak berarti bahwa mungkin untuk memenangkan kaum intelektual dengan cara apapun, dan juga tidak berarti bahwa kepentingan material segera dan ikatan kelas tidak mempengaruhi kaum intelektual lebih dari prospek historis-kebudayaan yang ditawarkan oleh sosialisme.

Bila kita tidak ikutsertakan kaum intelektual yang secara langsung melayani rakyat pekerja, sebagai doktornya buruh, pengacara buruh, dan sebagainya (sebuah strata, yang secara umum, terdiri dari perwakilan yang kurang berbakat dari profesi-profesi tersebut), maka kita bisa melihat bahwa kaum intelektual yang paling penting dan berpengaruh mendapatkan penghidupannya dari laba industri, uang sewa tanah, atau anggaran negara, dan oleh karena itu mereka secara langsung atau tidak langsung bergantung pada kelas kapitalis atau negara kapitalis.

Bila dipertimbangkan secara abstrak, ketergantungan material ini hanya menihilkan aktivitas politik militan dari kaum intelektual yang anti-kapitalis, tetapi tidak menihilkan kebebasan spiritual mereka dari kelas [kapitalis - Ed.] yang memberikan mereka penghidupan. Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak begitu. Justru karena karakter “spiritual” dari kerja kaum intelektual yang membuat kaum intelektual secara tidak terelakkan membentuk sebuah ikatan spiritual antara mereka dan kelas penguasa. Manajer-manajer pabrik dan insinyur-insinyur pabrik dengan tanggungjawab administratif selalu menemukan diri mereka di dalam antagonisme dengan para buruh, dimana mereka harus membela kepentingan kapital. 

Jelas sekali kalau fungsi yang harus mereka lakukan, pada analisa terakhir, merubah cara berpikir mereka dan opini mereka terhadap diri mereka sendiri. Dokter dan pengacara, walaupun karakter profesi mereka yang independen, harus selalu berhubungan secara psikologi dengan klien-klien mereka. Seorang tukang listrik dapat setiap hari memasang kabel listrik di kantor-kantor para menteri, bankir, dan istri-istri gelap mereka, dan dirinya tetap terisolasi dari mereka. Ini berbeda bagi seorang dokter, yang harus menemukan nada di dalam jiwa dan suaranya yang sesuai dengan perasaan dan kebiasaan orang-orang tersebut [para menteri, bankir, dsb – Ed.]. Terlebih lagi, hubungan semacam ini secara tidak terelakkan terjadi bukan hanya di lapisan atas masyarakat borjuis. Parasuffragette [perempuan yang membela hak memilih untuk perempuan – Ed.] dari London menyewa pengacara pro-suffragette untuk membela mereka. Seorang dokter yang mengobati istri-istri para jendral di Berlin atau istri-istri pemilik toko-kecil “Kristen-Sosial” di Vienna, seorang pengacara yang membela kasus ayah, saudara, dan suami mereka [para jendral dan pemilik toko-kecil tersebut – Ed.] tidak bisa membiarkan dirinya merasa antusias mengenai prospek kebudayaan kolektivisme. Semua ini benar bagi para penulis, artis, pemahat, seniman – tidak secara langsung dan segera, tetapi tetap tak terelakkan. 

Mereka menawarkan ke publik karya mereka atau kepribadian mereka, mereka tergantung pada persetujuan dan uang mereka, dan oleh karena itu, secara terbuka atau tertutup, mereka menundukkan kekreatifan mereka pada “monster besar” yang mereka benci: kaum borjuis. Nasib para penulis “muda” Jerman – yang sudah semakin menipis – menunjukkan kebenaran ini. Gorky, yang dijelaskan oleh kondisi epos dimana dia tumbuh besar, adalah sebuah pengecualian yang hanya membuktikan kebenaran ini: ketidakmampuan dia untuk mengadaptasi dirinya pada degenerasi anti-revolusioner kaum intelektual secara cepat mengikis “popularitasnya”.

Disini tersingkap sekali lagi perbedaan sosial antara kondisi kerja otak dan kerja otot. Walaupun kerja pabrik memperbudak otot dan melemahkan badan, ia tidak bisa menundukkan pikiran buruh. Semua kebijakan telah dicoba untuk menundukkan pikiran buruh, di Swiss seperti di Rusia, yang terbukti tidak berguna. Otak kaum buruh dari sudut pandang fisik lebih bebas. Penulis tidak harus bangun tidur ketika ayam berkokok, di belakang punggung dokter tidak ada mandor, kantong pengacara tidak diperiksa ketika dia meninggalkan pengadilan. Tetapi sebagai gantinya, mereka [penulis, dokter, pengacara, dsb] bukan hanya harus menjual tenaga-kerjanya, bukan hanya ototnya, tetapi seluruh kepribadiannya sebagai seorang manusia – dan bukan karena rasa takut tetapi karena kewajiban. Sebagai akibatnya, orang-orang ini tidak ingin melihat dan tidak bisa melihat bahwa baju jas profesi mereka adalah hanya sebuah seragam penjara yang lebih baik.
***
Pada akhirnya, Adler sendiri tampak tidak puas dengan formulanya yang abstrak dan pada dasarnya idealistik mengenai inter-relasi antara kaum intelektual dan sosialisme. Di dalam propaganda dia sendiri, dia sesungguhnya berbicara bukan kepada kelas pekerja otak yang memenuhi fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat borjuasi, tetapi kepada generasi muda kaum intelektual yang sekarang hanya berada di tahapan persiapan untuk peran mereka di masa depan – yakni kepada para pelajar. Bukti untuk ini bukan hanya dapat ditemukan pada siapa brosur Adler ditujukan: “Kepada Serikat Mahasiswa Bebas di Vienna”, tetapi juga dari nada brosur tersebut, agitasinya yang penuh semangat dan nada ceramahnya. Tidak terpikir untuk bisa mengekspresikan diri sendiri seperti itu di hadapan para profesor, penulis, pengacara, dokter. Nada seperti itu akan langsung tersumbat di tenggorokan seseorang setelah beberapa kata. Oleh karena itu, terbatas oleh kondisi material manusia yang harus dia kerjakan, Adler sendiri membatasi tugasnya. Sang politisi memperbaiki formula teorinya. Pada akhirnya, ini adalah perjuangan untuk mempengaruhi para pelajar.

Universitas adalah tahap akhir pendidikan yang diorganisir oleh negara untuk anak-anak kelas penguasa, seperti halnya barak-barak militer adalah institusi pendidikan akhir untuk generasi muda kaum buruh dan tani. Barak membentuk kepatuhan dan kedisiplinan yang dibutuhkan untuk fungsi-fungsi sosial yang akan dipenuhi selanjutnya. Pada prinsipnya, universitas melatih kemampuan manajemen, kepemimpinan, dan pemerintahan. Dari sudut ini, bahkan kelompok fraternitas mahasiswa Jerman adalah institusi kelas yang penting, karena mereka menciptakan tradisi yang menyatukan para ayah dan anak-anaknya, menguatkan kebanggaan nasional, menanam kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan di lingkungan borjuis, dan, akhirnya, meninggalkan sebuah cap yang menandakan bahwa seseorang adalah bagian dari kelas penguasa. 

Orang-orang yang melalui barak-barak, tentu saja, jauh lebih penting bagi partai Adler dibandingkan mereka yang melalui universitas. Tetapi pada situasi sejarah tertentu – yakni ketika, dengan perkembangan industri yang pesat, tentara memiliki komposisi sosial dari kelas proletar seperti halnya di Jerman – partai dapat mengatakan: “Saya tidak perlu pergi ke barak-barak. Cukup bagi saya untuk mengantarkan sang buruh muda sejauh pintu barak dan yang paling penting adalah menemui dia saat dia keluar lagi. Dia tidak akan meninggalkan saya, dia akan tetap menjadi milik saya.” Tetapi dalam hal universitas, bila partai ingin melakukan perjuangan independen untuk merekrut kaum intelektual, dia harus mengatakan yang sebaliknya: “Hanya disini dan hanya sekarang, ketika sang pemuda bebas dari keluarganya, dan ketika dia belum menjadi sandera dari posisinya di dalam masyarakat, saya dapat merekrut dia ke dalam kelompok kita. Sekarang atau tidak sama sekali.”

Di antara kaum buruh, perbedaan antara “ayah” dan “anak” secara murni hanya perbedaan umur. Di antara kaum intelektual perbedaannya bukan hanya perbedaan umur tetapi juga perbedaan sosial. Kaum pelajar, tidak seperti kaum buruh muda dan ayahnya sendiri, tidak memenuhi fungsi sosial apapun, tidak merasakan ketergantungan langsung kepada kapital atau negara, dan – setidaknya secara objektif bila bukan subjektif – bebas di dalam penilaiannya akan apa yang benar dan salah. Di dalam periode ini semua yang ada di dalam dirinya sedang berkembang, prasangka kelasnya tidak terbentuk seperti halnya juga ketertarikan ideologinya, masalah hati nurani sangat penting baginya, untuk pertama kalinya pikirannya terbuka pada generalisasi ilmu pengetahuan yang agung, segala sesuatu yang luar biasa hampir menjadi sebuah kebutuhan psikologi baginya. Bila kolektivisme dapat menguasai pikirannya, sekaranglah saatnya, dan kolektivisme dapat melakukan ini melalui karakter ilmiahnya yang luhur yang menjadi basisnya dan isi kebudayaan yang komprehensif dari tujuan-tujuannya, dan bukan melalui masalah “pisau dan garpu” (baca masalah perut – Ed.) yang membosankan. Di poin terakhir ini Adler sungguh benar.

Tetapi disini juga kita sekali lagi harus berhenti di hadapan sebuah fakta yang jelas. Bukan hanya kaum intelektual Eropa secara keseluruhan tetapi juga anak-anaknya, sang pelajar, yang secara pasti tidak menunjukkan ketertarikan apapun terhadap sosialisme. Ada sebuah tembok di antara partai buruh dan kaum pelajar. Mencoba menjelaskan masalah ini hanya dengan alasan tidak cukupnya kerja agitasi, yang belum mampu mendekati kaum intelektual dari sudut yang tepat, yakni apa yang Adler coba jelaskan, berarti mengabaikan seluruh sejarah hubungan antara kaum pelajar dan “rakyat”. Ini berarti melihat kaum pelajar sebagai sebuah kategori intelektual dan moral dan bukan sebagai sebuah produk dari sejarah sosial. Benar, ketergantungan mereka pada masyarakat borjuasi hanya mempengaruhi mereka secara tidak langsung, melalui keluarga mereka, dan oleh karena itu ketergantungan ini lemah. Tetapi, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan kelas darimana kaum pelajar ini berasal tercerminkan di dalam perasaan dan opini kaum pelajar dengan kekuatan yang penuh, seperti sebuah resonator. 

Sepanjang seluruh sejarah – di dalam momen-momen heroiknya yang paling hebat dan juga di dalam periode kebangkrutan moral total – kaum pelajar Eropa telah menjadi barometer kelas borjuis yang sensitif. Mereka menjadi ultra-revolusioner, dengan tulus hati dan terhormat bergaul dengan rakyat, ketika masyarakat borjuis tidak ada jalan keluar kecuali dengan revolusi. Mereka secara de facto menjadi kekuatan demokrasi borjuis ketika kebangkrutan politik kelas borjuis mencegah mereka [kelas borjuis] untuk memimpin revolusi, seperti yang terjadi di Vienna pada tahun 1848. Tetapi mereka [kaum pelajar] juga menembaki kaum buruh pada bulan Juni pada tahun yang sama, di Paris, ketika kaum borjuis dan kaum buruh saling berhadapan di barikade yang berseberangan. Setelah peperangan Bismark telah menyatukan Jerman dan memenuhi keinginan kelas borjuis, kaum pelajar Jerman dengan cepat menjadi figur yang mabuk dengan bir dan penuh dengan kesombongan, yang bersama-sama dengan pejabat militer Prusia selalu muncul di koran-koran satiris. 

Di Austria, para pelajar menjadi pembela eksklusifitas nasional dan sovisnisme[8] militan, seiring dengan menajamnya konflik antara nasionalitas-nasionalitas yang berbeda di negara tersebut untuk menguasai pemerintah. Dan tidak diragukan bahwa di dalam semua transformasi sejarah ini, bahkan yang paling menjijikkan sekalipun, kaum pelajar menunjukkan ketajaman politik, dan kesiapan untuk berkorban, dan idealisme yang militan; kualitas-kualitas yang sangat diandalkan oleh Adler. Walaupun kaum filistin[9] berumur 30 atau 40 tidak akan mengambil resiko mengorbankannya wajahnya untuk diremukan demi “kehormatan” yang abstrak, anaknya akan melakukan itu, dengan semangat yang tinggi. Para pelajar Ukraina dan Polandia di Universitas Lvov baru-baru ini menunjukkan sekali lagi kepada kita bahwa mereka bukan hanya tahu bagaimana memimpin tendensi nasional atau politik sampai garis akhir tetapi juga tahu bagaimana menyongsongkan dada mereka di depan moncong senjata. 

Tahun lalu para pelajar German di Prague siap menghadapi kekerasan massa untuk menunjukkan di jalanan hak mereka untuk eksis sebagai sebuah masyarakat Jerman. Disini kita saksikan idealisme militan – kadang-kadang seperti ayam jago – yang merupakan karakteristik bukan dari sebuah kelas atau sebuah ide tetapi dari sebuah kelompok-umur; di pihak yang lain, isi politik dari idealisme ini sepenuhnya ditentukan oleh semangat historis kelas-kelas darimana para pelajar tersebut berasal dan kemana dia akan kembali. Dan ini alami dan tidak terelakkan.

Pada analisa yang terakhir, semua kelas yang kaya mengirim anak mereka ke universitas dan bila para pelajar ini, ketika ada di universitas, menjadi sebuah tabula rasa (kertas kosong – Ed.) dimana sosialisme dapat menulis pesannya, apa jadinya keturunan kelas dan determinisme sejarah yang tua dan malang ini?
***
Kita tetap harus memperjelas satu aspek lainnya, yang akan mendukung dan menentang Adler.
Satu-satunya cara untuk menarik kaum intelektual ke sosialisme, menurut Adler, adalah dengan mengedepankan tujuan akhir dari gerakan sosialis, di dalam keseluruhannya. Tetapi tentu saja Adler tahu bahwa tujuan akhir ini menjadi semakin jelas dan menjadi semakin lengkap seiring dengan progres konsentrasi industri, proletarianisasi strata menengah dan intensifikasi antagonisme kelas. Terpisah dari kehendak para pemimpin politik dan perbedaan-perbedaan dalam taktik nasional, di Jerman “tujuan akhir” ini berdiri dengan jauh lebih jelas dan lebih segera dibandingkan di Austria dan Itali. Tetapi proses sosial yang sama ini, yakni intensifikasi pertentangan antara buruh dan kapital, mencegah kaum intelektual dari menyeberang ke partai buruh. 

Jembatan antara kelas-kelas runtuh, dan untuk menyeberang, seseorang harus melompati sebuah jurang yang semakin dalam seiring dengan berlalunya waktu. Oleh karena ini, pararel dengan kondisi-kondisi yang secara objektif membuat lebih mudah kaum intelektual untuk memahami secara teori esensi dari kolektivisme, halangan-halangan sosial tumbuh semakin besar yang mencegah kaum intelektual untuk bergabung dengan pasukan sosialis. Bergabung dengan gerakan sosialis di negara maju manapun, dimana kehidupan sosial eksis, bukanlah sebuah tindakan spekulatif, tetapi sebuah tindakan politik, dan disini kondisi sosial menang melawan logika teori. Dan akhirnya ini berarti bahwa sekarang lebih sulit untuk memenangkan kaum intelektual dibandingkan kemarin, dan akan lebih sulit esok hari dibandingkan sekarang.

Akan tetapi, di dalam proses ini juga ada sebuah “perpecahan di dalam proses yang berjalan lambat ini”. Sikap kaum intelektual terhadap sosialisme, yang sudah kita jelaskan sebagai sikap yang terasingkan yang semakin membesar dengan tumbuhnya gerakan sosialis, dapat dan harus berubah secara pasti sebagai akibat dari perubahan politik secara objektif yang akan menggeser perimbangan kekuatan sosial secara radikal. Di antara gagasan-gagasan Adler, sebanyak ini yang benar: bahwa kaum intelektual ingin mempertahankan eksploitasi kapitalis tidak secara langsung dan tidak tanpa syarat, selama kaum intelektual secara materi tergantung pada kelas kapitalis. Kaum intelektual bisa menyeberang ke kolektivisme bila mereka dapat melihat kemungkinan kemenangan kolektivisme yang segera, bila kolektivisme muncul di hadapan mereka bukan sebagai sebuah idealisme dari kelas yang berbeda, jauh, dan asing [baca kelas buruh – Ed.] tetapi sebagai sesuatu yang dekat dan nyata; dan akhirnya, bila – dan ini bukan kondisi yang paling tidak penting – perpecahan politik dengan kelas borjuis tidak mengancam setiap pekerja-otak dengan konsekuensi materi dan moral yang menyeramkan. 

Kondisi-kondisi seperti itu hanya bisa diciptakan bagi kaum intelektual Eropa melalui kekuasaan politik sebuah kelas sosial yang baru; dan sedikit banyak melalui sebuah periode perjuangan langusng dan segera untuk kekuasaan tersebut. Apapun yang menjadi sebab keterasingan kaum intelektual Eropa dari rakyat pekerja – dan keterasingan ini akan tumbuh semakin besar, terutama di negara-negara kapitalis muda seperti Austria, Itali, dan negara-negara Balkan – di sebuah epos rekonstruksi sosial yang hebat kaum intelektual – mungkin lebih awal dari pada kelas-kelas intermediate lainnya – menyeberang ke sisi pembela masyakarat yang baru. Sebuah peran yang besar akan dimainkan oleh kualitas sosial kaum intelektual dalam koneksinya dengan ini, yang membedakan mereka dari kelas borjuis kecil komersial dan industrial dan kelas tani: hubungan okupasinya dengan cabang kebudayaan kerja sosial, kapasitasnya dalam menggeneralisasi teori, fleksibilitas dan mobilitas cara berpikirnya; pendeknya,intelektualitas mereka. 

Dihadapi dengan kenyataan pemindahan seluruh aparatus masyarakat ke tangan yang baru [baca kelas buruh – Ed.], kaum intelektual Eropa akan mampu meyakinkan diri mereka bahwa kondisi baru yang tercipta ini tidak akan mencampakkan mereka ke jurang dalam tetapi justru akan membuka peluang-peluang yang tak terbatas bagi mereka untuk mengaplikasikan kekuatan-kekuatan teknik, organisasi, dan ilmiah; dan mereka akan bisa membawa ke depan kekuatan-kekuatan tersebut dari barisan mereka, bahkan pada periode awal yang sangat kritis ketika rejim yang baru harus menghadapi kesulitan-kesulitan teknik, sosial, dan politik yang besar.

Tetapi bila penaklukan aparatus masyarakat tergantung sebelumnya pada bergabungnya kaum intelektual ke partai kaum proletar Eropa, maka prospek kolektivisme sangatlah buruk – karena, seperti yang sudah kita coba tunjukkan di atas, bergabungnya kaum intelektual ke Sosial Demokrasi di dalam kerangka rejim borjuis, berlawanan dengan harapan-harapan Max Adler, menjadi semakin mustahil seiring dengan berlalunya waktu.

Catatan
[1] Partai Sosialis Revolusioner dibentuk pada tahun 1902, mewarisi banyak ide dan praktek dari Partai Kehendak Rakyat dan Narodniki. Mereka menekankan bahwa kaum tani adalah kelas yang revolusioner, bukan pekerja kota. Pada tahun 1917, partai SR pecah menjadi SR Kiri dan SR Kanan. SR Kanan mendukung Pemerintahan Sementara sedangkan SR Kiri beragitasi untuk penggulingannya. Dengan munculnya pemerintahan Soviet, SR Kiri bergabung dengannya namun SR Kanan meneruskan taktik teroris mereka dan akhirnya dilarang.
[2] Max Adler (1873-1937) adalah seorang kaum intelektual, politisi, dan ahli filosofi dari Austria. Dia adalah perwakilan dari garis pemikiran Austromarxisme.
[3] Sebelum tahun 1914, semua kaum Marxis and Sosialis menyebut diri mereka sebagai kaum Sosial Demokrat. Setelah pengkhianatan parta-partai Sosial Demokrasi yang mendukung Perang Dunia Pertama (tahun 1914), kaum Marxis revolusioner mencampakkan nama Sosial Demokrasi untuk memisahkan diri mereka dari kaum reformis.
[4] Internasional Kedua - Pada tahun 1880, Partai Sosial Demokrat Jerman mendukung seruan dari kamerad-kamerad Belgia untuk mengadakan kongres sosialis internasional pada tahun 1881. Kota kecil bernama Chur dipilih dan kaum sosialis Belgia, Parti Ouvrier dari Perancis, Sosial Demokrat Jerman dan Sosial Demokrat Swiss berpartisipasi dalam persiapan kongres yang akhirnya menuju pada pembentukan Sosialis Internasional atau Internasionale Kedua. Tidak seperti Internasionale Pertama, Internasionale Kedua terdiri dari partai-partai politik yang memiliki pemimpin terpilih, program politik dan keanggotaan yang berbasiskan di negerinya masing-masing. Seksi nasional dari Internasionale Kedua membangun serikat buruh, terlibat dalam pemilihan umum dan sangat terlibat dalam kehidupan klas pekerja di negerinya masing-masing.
Permulaan Perang Besar pada tahun 1914 dan krisis nasional dan revolusioner yang disebabkan perang menyebabkan krisis didalam Internasionale Kedua. Kaum Sosial Demokrat bertemu di Zimmerwald pada tahun 1915 untuk mencoba membentuk platform oposisi bersama terhadap pembantaian yang terjadi dalam Perang. Konferensi Zimmerwald gagal untuk menyatukan kaum Sosial Demokrat ataupun mengakhiri Perang. Namun konferensi tersebut mampu menyatukan sebuah Sayap Kiri yang mendukung Revolusi Rusia dan memberikan basis bagi Internasional Ketiga (Komunis Internasional).
Tokoh-tokoh utama dalam gerakan pekerja internasional dalam periode ini adalah: Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, Karl Liebknecht, G V Plekhanov, August Bebel, Clara Zetkin, Daniel De Leon, Franz Mehring dan V I Lenin.
[5] Simplicissimus adalah sebuah majalah satiris mingguan yang diterbitkan di Jerman pada tahun 1896. Ini adalah koran kaum intelektual liberal.
[6] Anton Menger (1841-1906) adalah seorang profesor hukum dari Austria. Dia menulis banyak buku mengenai reformasi hukum untuk membela hak-hak rakyat miskin dan buruh. Beberapa buku yang dia tulis di antaranya: Hak untuk memiliki seluruh hasil produksi dan Hukum sipil dan kaum miskin.
[7] Atlanticus, nama pena Karl Ballod atau Karlis Balodis (1864-1931), seorang ahli statistik ekonomi dari Latvia. Menjabat sebagai profesor di Universitas Berlin. Dia menulis banyak buku mengenai ekonomi sosialisme dan terlibat di dalam perencanaan proses ekonomi Uni Soviet.
[8] Sovinisme: nasionalisme sempit
[9] Filistin adalah seseorang yang tidak tertarik dengan persoalan intelektual
Sumber: The Intelligentsia and Socialism. Leon Trotsky Internet Archive
Penerjemah: Ted Sprague, Agustus 2009
Pertama kali diterbitkan di The New International Vol 4. No.8, Agustus 1938, hal. 249-250

www.phudin.blog.com

Politik Gerakan Buruh

MENGHIMPUN KEKUATAN GERAKAN PEKERJA

BEBERAPA waktu lalu kelas pekerja di Eropa melakukan demonstrasi besar-besaran. Ribuan demonstran turun ke jalan kota Madrid, Barcelona, dan Valencia. Mereka memprotes tindakan pengetatan anggaran yang dilakukan oleh pemerintahannya. Serikat Pekerja Transportasi Publik mengumumkan bahwa mereka siap melakukan pemogokan.

Di Portugal, serikat pekerja juga menyiapkan kekuatannya untuk melakukan pemogokan, memprotes pembekuan tingkat upah. Pemogokan di Yunani menjadi pemogokan terbesar, utamanya di kota Athena dan Thessaloniki. Dua juta rakyat turun ke jalan dengan diorganisir oleh Konfederasi Umum Pekerja Yunani (GSEE) dan Serikat Pekerja Pegawai Negeri Sipil (ADEDY).

Berkaca dengan apa yang telah dilakukan oleh gerakan pekerja di Eropa, bagaimanakah dengan gerakan rakyat pekerja di Indonesia?


Peran serikat

Saat ini harus diakui bahwa serikat pekerja di Indonesia secara efektif belum mampu mengonsolidasikan kekuatan mereka. Di internal serikat pekerja peran itu pun belum optimal. Tujuan berdirinya serikat pekerja, yaitu melindungi dan menyejahterakan anggota dan keluarganya masih sekadar mimpi dan isapan jempol belaka. Serikat yang ada saat ini lemah dalam konsep gerakan, pendidikan, dan pendanaan. Romantisme kekuatan pekerja memang diagung-agungkan, terutama menjelang May Day. Namun sayangnya kebanyakan gerakan pekerja tidak berani menilai jujur atas apa yang sudah dilakukan.

Kegiatan serikat menumpuk, terlihat sibuk dengan isu-isu besar, namun tidak bermuara pada orientasi hasil kerja. Pekerja tersekat dalam kefanatikan kelompok. Kadang-kadang bukan ulah dari anggota serikat, namun justru datang dari elite serikat. Beda pendapat, beda strategi taktik, beda pendangan Politik, menjadikan gerakan pecah berkeping-keping. Saling menjatuhkan, bahkan saling menjelekkan. Padahal dulu sesama mereka adalah kawan seiring seperjuangan.

Serikat pekerja membutuhkan nilai-nilai dan etika yang menjadi landasan gerak organisasi. Tidak dengan menghidupkan ”hidden agenda” atau teori konspirasi dalam tubuh organisasi. Maka semua hal harus jelas, tidak ada yang ditutup-tutupi dari elite kepada anggota. Semua harus dimulai dengan keterbukaan dan rasa saling percaya.

Serikat seharusnya mampu menjadikan dirinya sebagai organisasi pembelajar. Kaderisasi yang intensif akan menghasilkan kader-kader yang mampu menganalisa kondisi gerakan saat ini, baik di internal organisasi ataupun permasalahan-permasalahan di luar organisasi. Sehingga serikat mampu merumuskan tuntutan perjuangannya dengan lebih cermat. Dalam bidang politik pekerja harus berdaulat, berdaya dalam ekonomi dan bermartabat dalam budaya.

Serikat harus mampu menjaga ritme gerakan dan nilai-nilai perjuangan. Melakukan kritik dan outokritik terhadap apapun yang telah dilakukan, dan
 mendokumentasikannya dengan baik apa-apa yang telah menjadi keputusan bersama.

Serikat juga selayaknya memberikan pemahaman-pemahaman kepada setiap individu anggota akan perannya dalam tiap perjuangan. Kita bisa pelajari pola gerakan pekerja di Eropa beberapa waktu lalu. Setelah serikat berhasil membangun kekuatan internal, maka tugas selanjutnya adalah membangun jaringan dan mematangkan isu.


Nasib federasi

Bila serikat pekerja di Indonesia masih berkutat dengan problem internal, demikian pula halnya dengan federasi dan konfederasi serikat pekerja. Elit federasi hanya merupakan kumpulan elit yang kurang perhatian pada serikat pekerja anggotanya. Federasi tidak mampu mensinergikan serikat pekerja anggotanya dalam program dan isu bersama. Mereka jalan dengan agenda masing-masing. Karena memang sejak awal tidak memiliki konsep dalam membangun gerakan bersama.

Simaklah apa yang dilakukan oleh Maritime Union of Australia. Mereka menyatukan simpul gerakan dari hulu ke hilir, terutama pekerja sektor transportasi dan manufaktur. Jika ada konflik hubungan industrial pada salah satu lini, MUA akan melakukan aksi solidaritas nyata dengan blokade pengiriman barang, mogok, membangun seruan-seruan bersama.

Contoh terkini, pada 7 April 2010 pekerja pelabuhan di setiap pelabuhan sepanjang Australia, menghentikan pekerjaan mereka selama 1 jam sebagai bentuk protes atas kematian tragis Nick Fanos, yang tertimpa container di Port Botany pada 28 Maret. Rentang masa mogok itu mereka gunakan untuk melahirkan sebuah resolusi tentang keselamatan kerja. Mereka juga menuntut Deputi Perdana Menteri dan Menteri Transportasi untuk merevisi manajemen keselamatan bongkar muat dan mengundangkan panduan National Stevedoring Safety Code.

Gerakan pekerja di Indonesia tidak melakukan hal ini. Kita masih sibuk melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan pekerja itu sendiri. Jujur saja, kita terlalu sibuk dengan agenda politik yang tidak bersentuhan langsung dengan Politik perserikatan buruh.

Sebagai otokritik pada kolektif yang telah kita bangun: Kita mudah latah pada isu. Akibatnya, konsentrasi kita pada peta jalan gerakan pekerja itu tidak terbangun sebagaimana mestinya. Kita terombang-ambing oleh bola liar. Genit untuk ikut masuk dalam permasalahan yang sebenarnya tidak ada hubungan (serikat/federasi) kita dengan masalah tersebut.

Penting bagi kita untuk membuat dan berkonsentrasi pada peta jalan gerakan. Juga menjadi penting bagi kelas pekerja untuk membangun kekuatan federasi ataupun konfederasi yang menjadi kekuatan nyata bagi gerakan pekerja. Membangun kekuatan seperti apa yang dibangun oleh kawan-kawan di Eropa bukanlah mimpi. Karena sebenarnya kita mampu menyusun strategi, bahkan lebih dari apa yang dibangun kawan-kawan gerakan di Eropa. Karena kita memiliki budaya yang mendukung. Kita memiliki budaya saling membantu, bergotong royong adalah budaya bangsa.

Sudah waktunya serikat mulai menghidupkan kembali kelompok-kelompok belajar, kelompok diskusi untuk memberikan pemahaman kepada anggota. Memberikan pandangan mengenai visi dan misi pembangunan serikat yang benar. Serikat wajib melindungi dan mencarikan jalan untuk anggota agar bisa lebih sejahtera. Sudah saatnya serikat membangun gerakan ekonomi bersama lewat koperasi yang dikelola oleh federasi dan konfederasi. Membangun kekuatan bersama untuk menghidupkan usaha bersama.

Dengan sentra-sentra ekonomi inilah pekerja bisa berdaya untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Mampu membangun kekuatan ekonomi berarti mampu membangun kemandirian. Semakin kuat Iuran dan dana koperasi, semakin kuatlah gerakan yang dibangun. Juga berarti semakin banyak strategi perjuangan yang bisa direalisasikan. Mandiri tidak bergantung lagi dengan dana-dana luar yang mengharapkan sesuatu dari kekuatan pekerja. Pekerja mampu mengalokasikan kekuatannya untuk menekan korporasi melalui aksi-aksi yang lebih terencana. Pekerja memiliki dana yang besar untuk melakukan mogok, menggaji pengurus yang loyal full timer mengurusi kegiatan dan bertanggung jawab memikirkan laju organisasi.

Ini semua bukan impian karena kita sebenarnya mampu untuk melakukan hal ini. Jika kita memiliki komitmen yang tinggi untuk saling percaya kepada sesama kawan seperjuangan. Marilah kita membuka diri kita untuk berkonsentrasi melakukan hal-hal besar secara bersama-sama. Membangun kekuatan pekerja, menjadikannya gelombang besar untuk mencapai kesejahteraan bersama. Hidup pekerja!***


Irsan Husain, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Angkutan Pelabuhan Indonesia
Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Majalah LABORA Edisi April 2010.