(Pengalaman Kaum Bolshevik)
(Bagian I)
Oleh: Maurice Sibelle
Salah satu hambatan terbesar untuk menyadarkan kelas pekerja tentang kemungkinan revolusi sosialis adalah: kelas pekerja sudah terbuai/terpengaruh oleh impian dan janji-janji yang ditanamkan ke benak mereka dari hari ke hari oleh penguasa kapitalis. Pengaruh/impian tersebut demikian mendalam dan meluas di kalangan kelas pekerja. Pengaruh/impian tersebut misalnya: bahwa dengan/melalui lembaga-lembaga demokrasi borjuis, terutama parlemen, kelas pekerja dapat mempertahankan/memperjuangkan dan memajukan kepentingan-kepentingan atau tuntutan-tuntutan mereka. Pengalaman sejarah menunjukan bahwa kaum sosialis tidak dapat menghancurkan pengaruh/impian tersebut—yang telah begitu tertanam dalam benak kelas pekerja—hanya dengan memblejeti/membongkar kepalsuan parlemen. Tetapi, sebaliknya, untuk meyakinkan massa kelas pekerja—bahwa parlemen hanya lah merupakan alat kaum borjuis—harus lah didukung oleh alasan-alasan atau argumen-argumen yang diambil dari pengalaman kelas pekerja sendiri. Atau, dengan kata lain, massa kelas pekerja harus lah mengalami sendiri praktek-praktek perjuangan dalam menuntut kepentingannya di hadapan parlemen, sehingga mereka dapat menguji atau melihat sendiri keterbatasan-keterbatasan (baca: ketidakmampuan) parlemen dalam memenuhi segala macam kepentingan yang ada dalam aktivitas kelas pekerja. Setelah kelas pekerja yakin akan ketidakmampuan parlemen borjuis dalam memenuhi kepentingannya, maka mereka akan memiliki keteguhan dalam menghancurkan sistim parlemen borjuis tersebut, sehingga akan ada upaya untuk menggantikannya dengan lembaga-lembaga politik yang benar-benar demokratik—yakni suatu dewan buruh (pusat) yang dipilih oleh kelas buruh sendiri dan (tentu saja, dengan demikian) mewakili kelas buruh, seperti Dewan Perwakilan Buruh (Sovyet) yang muncul pada revolusi 1905, dan (muncul lagi) pada tahun 1917.
Antara tahun 1912-1914, kaum Bolshevik, yang dipimpin oleh Vladimir Lenin, dapat memanfaatkan parlemen buatan T’sar—yakni apa yang disebut sebagai Duma—untuk membangun dan membangkitkan gerakan revolusioner kelas buruh. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat penting sehubungan dengan apa yang disebut dengan parlementarisme revolusioner, atau aktivitas parlementer revolusioner. Pengalaman tersebut merupakan periode yang sangat penting dalam sejarah partai Bolshevik. Apa yang dikerjakan dalam periode tersebut merupakan landasan bagi perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepatnya pada tahun 1917 yang, akhirnya, mengantarkan kaum Bolshevik pada kemenangannya dalam Revolusi Oktober.
Pandangan Marx dan Engels tentang Parlementerisme
Keterlibatan/partisipasi kaum Bolshevik dalam pemilihan umum (pemilu) didasarkan atas tulisan Marx dan Engels yang merangkum/menyimpulkan pengalaman gerakan buruh revolusioner pada abad ke-19, terutama revolusi Prancis dan Jerman pada tahun 1848, serta Komune Paris pada tahun 1871.
Marx dan Engels tidak mempuyai impian/harapan bahwa kelas buruh dapat memenangkan kekuasaan politik melalui sistem parlemen. Setelah kegagalan revolusi demokrasi-borjuis pada tahun 1848, mereka menyimpulkan bahwa kelas buruh tidak boleh menyandarkan diri dan menggunakan (secara apa adanya, atau secaraparasmanan) alat-alat/perangkat-perangkat negara kapitalis yang sudah tersedia guna memenuhi kepentingannya. Kelas buruh harus menghancurkan negara borjuis tersebut dan menggantikannya dengan miliknya sendiri. Melalui pengalaman pemberontakan revolusioner pada tahun 1871 di Paris, mereka sudah dapat melihat bentuk-bentuk dan struktur-struktur semacam apa yang diperlukan oleh suatu negara kelas buruh.
Dalam pidato pertemuan Dewan Umum Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Internasional I), Mei, 1871, yang kemudian dipublikasikan dalam The Civil war in France (Perang Saudara di Prancis), Marx menyatakan:
“Paris merupakan pusat kedudukan kekuasaan pemerintahan lama namun, pada saat yang sama, juga merupakan pusat kekuatan sosial kelas buruh Perancis. Di Paris lah meledak perlawanan bersenjata kelas buruh menentang upaya Thiers (presiden pemerintahan republik borjuis—Maurice Sibelle/MS) dan Rurals (julukan bagi monarki yang didominasi parlemen Perancis—MS) untuk mengembalikan dan mempertahankan kekuasaaan pemerintahan lama, yang diwariskan kepada mereka oleh kerajaan (Oleh Napoleon III, Louis Napoleon Bonaparte, kemenakan Napoleon Bonaparte, dan merupakan kaisar Perancis dari tahun 1852-71—MS). Kelas buruh bisa mempertahankan Paris dari serangan bergelombang (Paris diserang oleh tentara Prusia dalam perang Franco-Prussian pada tahun 1870-1871—MS) karena kelas buruh telah membubarkan tentara reguler kerajaan dan, kemudian, digantikan oleh Garda Nasional yang sebagian besar anggotanya terdiri dari kelas buruh. Fakta tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi sudah bisa ditransformasikan menjadi sebuah kelembagaan. Oleh karenanya, dekrit pertama Komune adalah tentang pembubaran tentara reguler kerajaan, yang digantikan oleh rakyat bersenjata.
Komune merupakan suatu bentuk pemerintahan dewan kotapraja, yang merupakan perwakilan dari berbagai kota, yang dipilih secara langsung, umum, bebas dan rahasia, yang bertanggungjawab serta dapat digantikan dalam waktu yang singkat. Mayoritas anggotanya sesungguhnya adalah kelas pekerja, atau apa yang dikenal sebagai perwakilan dari kelas buruh. Komune bukan merupakan suatu parlemen; komune adalah suatu organ kerja eksekutif dan, sekaligus, juga legislatif. Polisi, yang sebelumnya merupakan alat dari Pemerintah Pusat, dilucuti atribut-atribut politiknya, diubah menjadi beranggung jawab kepada komune, dan sewaktu-waktu dapat diganti oleh komune. Kini, ia menjadi alat komune. Demikian juga perlakuan terhadap seluruh pejabat administrasi beserta cabang-cabangnya. Seluruh anggota komune, baik itu yang duduk di pemerintahan kotapraja maupun yang di bawahnya, bekerja untuk melayani kepentingan umum dengan standar upah kelas pekerja.
Komune Paris, tentu saja, bisa berfungsi sebagai model bagi semua pusat industri besar di Prancis. Begitu rejim komune bisa didirikan di Paris, maka pusat-pusat kekuasaan Pemerintahan lama lainnya di provinsi terpaksa harus memberikan jalan/kesempatan bagi berdirinya pemerintahan yang baru, pemerintahan yang dijalankan sendiri oleh kelas pekerja, kelas produsen yang sebenarnya. Bila dilihat garis besar (gambaran kasar) organisasi nasional komune, yang tak berhasil diwujudkan karena kekurangan waktu, jelas tercantum bahwa Komune merupakan bentuk politik perwakilan-perwakilan kota-kota, bahkan desa yang paling kecil/terpencil sekali pun dan, di distrik-distrik pedesaan, tentara reguler dilucuti dan diganti oleh milisia nasional, yang waktu pengabdiannya sangat singkat. Komune pedesaaan di setiap distrik memilih/mengirim wakilnya ke pusat kota untuk menjadi anggota majelis distrik. Dan majelis distrik ini lah yang akan menangani semua masalah bersama mereka. Majelis distrik ini kemudian memilih/mengirim wakilnya ke tingkat nasional untuk menjadi anggota Delegasi Nasional di Paris. Dan setiap delegasi setiap saat bisa digantikan serta terikat oleh mandat sementara (instruksi formal) yang diberikan oleh pemilihnya.”
Mengomentari kesimpulan Marx tersebut, Lenin menulis dalam The State and Revolution(Negara dan Revolusi):
“Tentu saja, jalan keluar dari sistem parlementer bukan hanya menghilangkan institusi perwakilan dan prinsip Pemilu, tetapi merubah institusi perwakilan (parlemen) dari ‘pabrik omongan’ menjadi badan pekerja. Komune harus merupakan badan pekerja eksekutif dan legislatif pada saat yang sama, dan bukan hanya sebagai parlemen.
Badan pekerja, bukan parlemen—ini merupakan ungkapan yang berasal dari kondisi parlemen saat ini dan ‘anjing kecil piaran’ parlemen kaum sosial-demokrat! Ambil contoh parlemen di beberapa negeri, seperti Amerika dan Swiss, dari Prancis ke Inggris, Norwegia, dan sebagainya—di negeri-negeri ini urusan sesungguhnya dari ‘negara’ dilakukan di belakang layar dan dilaksanakan oleh departemen-departemen, kedutaan dan staf umum. Parlemen diberi tugas untuk ngomong, yang bertujuan untuk membodohi ‘rakyat biasa’ atau ‘masyarakat umum’.
Komune menggantikan parlemen institusi masyarakat borjuis (yang busuk dan penuh sogokan), di mana kebebasan berpendapat dan diskusi tidak jatuh kedalam hal yang menyesatkan. Oleh karena itu, parlemen itu sendiri harus melaksanakan hukum mereka, mereka harus menilai hasil capaiannya (dalam realitas) dan untuk menilai secara langsung kepentingan mereka. Institusi perwakilan masih ada, tetapi parlemen disini bukan sebagai sistim khusus, seperti pembagian kerja buruh antara legislatif dan eksekutif, sebagai kedudukan khusus bagi anggotanya. Kita tidak dapat membayangkan demokrasi tanpa institusi perwakilan—bahkan dalam demokrasi proletariat. Tetapi kita bisa dan harus membayangkan demokrasi tanpa parlemen, jika kritik pada masyarakat borjuis bukan hanya sekedar kata-kata bagi kita, jika keinginan untuk menghancurkan aturan borjuis menjadi kebutuhan kita, dan bukan hanya sekedar ratapan ‘pemilu’ untuk mendapatkan suara pekerja—seperti yang dilakukan Manshevik.”
Ketika menjadi oposisi revolusioner dari parlemen, Marx dan Engels mendukung perluasan hak pilih universal bagi kelas pekerja dan memanfaatkan pemilihan parlemen bagi tujuan mempropagandakan sosialis. Sebagai contoh, dalam bulan Maret, 1850, saat menyebarkan propaganda di kalangan anggota Liga Komunis di Jerman, Marx dan Engels mengharapkan bahwa tugas mendesak dari revolusi anti-feodal di negeri tersebut adalah pemilihan ‘majelis perwakilan nasional’. Di dalam keterbatasan semacam itu, Marx dan Engels berpendapat, Liga Komunis harus mencoba untuk melihat bahwa ”di mana pun calon buruh harus diposisikan sejajar dengan calon demokrat-borjuis, dan dalam pemilihan harus dipromosikan dengan segala macam alat”. Mereka meneruskan pendapatnya, bahwa:
“…meskipun tidak ada harapan apakah mereka akan dipilih, buruh harus menentukan sendiri calonnya untuk menunjukkan kemandirian mereka, untuk mengukur kekuatan mereka dan untuk menunjukkan (di mata umum) keberadaan partai dan sikap serta pandangan partai mereka (yang revolusioner). Dalam hubungan itu, mereka harus tidak menenggelamkan dirinya untuk disogok oleh berbagai macam pendapat dari kaum Sosial-Demokrat, sebagai contoh, dengan terpengaruh oleh pendapat kaum Sosial-Demokrat yang menyebabkan mereka pecah dengan partai demokrat dan memberikan reaksi yang memberikan kemungkinan menggagalkan kemenangan mereka. Tujuan akhir dari tulisan tersebut di atas dipersembahkan bagi kaum proletariat. Keuntungan yang diambil dari partai proletariat (dengan sikap kemandiriannya itu) tentu saja lebih penting ketimbang kerugian yang mungkin diperoleh dengan munculnya beberapa reaksi dalam dewan perwakilan.
Di tahun 1895, dalam kata pengantar Class Strugle in France (Perang Kelas di Prancis)Engels menambahkan bahwa “Manifesto Komunis telah menyatakan kemenangan hak suara universal dalam kehidupan demokrasi, sebagai langkah pertama dan tugas yang penting dari kaum proletar militan”.
Ketika hak suara universal dijalankan di Prusia (oleh pemerintahan Bismarck di tahun 1866), “…kaum pekerja kita harus segera mengambilnya dengan sungguh-sungguh dan pertama-tama mengirim August Bebel ke konstituante Reichstag”. Melalui semacam kampanye pemilihan sosialis, kaum Marxis Jerman dapat mentransformasikan/merubah hak parlemen “…dari alat pembohongan (yang selama ini terjadi) menjadi alat untuk berpartisipasi”. Engels melanjutkan …
“Jika hak pilih universal tidak memberikan sebuah keuntungan pun, paling tidak hal itu akan memberikan keuntungan pada kita dalam menghitung jumlah anggota kita setiap tiga tahun, yaitu dengan penerbitan reguler,…”
Engels meneruskan, bahwa propaganda pemilihan umum merupakan alat yang lebih efektif untuk perjuangan ketimbang petualangan revolusioner—“…yang dilakukan dengan kesadaran (minoritas kecil) di kepala mereka yang ada di kalangan massa yang tidak sadar”—seperti usaha-usaha kaum ultra-kiri yang dilakukan sekelompok kecil untuk merebut kekuasaan melalui perjuangan jalanan. Dia melihat partisipasi kaum sosialis dalam pemilihan umum sebagai ‘salah satu senjata yang sangat tepat’ untuk melawan intitusi negara dan membelejeti partai-partai lain di hadapan massa; sebagai metode efektif untuk mengangkat kesadaran massa dengan gagasan-gagasan partai; sebagai kerangka kerja yang berguna untuk mengungkapkan gagasan-gagasan partai dan menyerang komponen-komponen lain jika partai sukses memenangkan kursi; untuk menilai kekuatan dan dukungan massa pada partai; sebagai alat untuk membenarkan partai di hadapan massa, dan meletakkan partai dalam posisi yang dapat membenarkan pendapat bahwa usaha-usaha partai di luar hukum dapat dilakukan dengan lebih mudah. Hal tersebut terutama penting di Jerman dalam masa diberlakukannya hukum anti-sosialis. Aktivitas terbuka partai—seperti kampanye dalam pemilihan umum—merupakan senjata (kekuasaan) yang memungkinkan partai berjuang untuk memperoleh hak-nya sebagai partai yang eksis.
Bolshevik Dan Duma T’sar
Praktek yang paling sukses dari pendekatan revolusioner Marxis tentang parlemen dilakukan oleh Bolshevik. Pengalaman pertama Bolshevik dengan parlemen terjadi pada tahun 1905 ketika rejim T’sar menyerukan pemilihan Duma—nama Parlemen di Rusia.
Rejim T’sar merupakan monarki yang benar-benar absolut, dengan semua kekuasaan—baik eksekutif maupun legislative—terpusat di tangan T’sar. Duma hanya merupakan bentuk konsesi bagi revolusi yang muncul pada tahun 1905. Lebih-lebih, Duma tersebut kekuasaannya hanya merupakan badan penasehat, dipilih dengan hak suara yang benar-benar terbatas—yang dapat menjamin kesetiaan pada tuan tanah, yang merupakan mayoritas anggota.
Bolshevik dengan sukses mendukung boikot pada pemilihan Duma I. Pemilihan Duma I disapu oleh pemogokan umum pada Oktober, 1905, dan pembentukan Wakil Buruh Soviet di St Petersburg. Soviet dibentuk oleh delegasi yang dipilih oleh majelis buruh untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan pemogokan umum. Lenin menggambarkan Soviet ini sebagai ‘cikal-bakal pemerintahan revolusioner sementara’.
Boikot Duma I merupakan taktik yanng berhasil karena kondisi revolusioner yang memungkinkan pada saat itu. Massa memobilisasi perjuangan bersenjata—yang muncul saat melawan institusi rejim lama—dan merupakan sebuah kesalahan untuk melanjutkan taktik parlemen dalam kondisi yang lebih stabil.
Pada tahun 1906, mulai terjadi penurunan revolusi, sebagian besar dikarenakan dengan kenyataan bahwa revolusi yang muncul masih terbatas pada pusat-pusat perkotaan dan belum menyebar luas pada masyarakat—seperti pada populasi petani di pedesaan—yang menyebabkan revolusi mudah disapu. Bolshevik salah memperhitungkan kenyataan tersebut, dan mengharapkan bangkitnya kembali gerakan massa revolusioner, Bolshevik kembali menyerukan boikot pemilihan Duma. Akhirnya boikot gagal dan Duma berhasil didirikan.
Segera, setelah itu, pemerintahan T’sar merasa perlu untuk membubarkan Duma dan membangun Duma baru yang lebih setia kepada Monarki. Pada awal 1907, pemerintah segera menyerukan Pemilu. Pada masa ini Bolshevik dan Menshevik bersama dengan partai-partai radikal lain mengajukan calon dalam Pemilu tersebut. Sejumlah anggota Bolshevik dipilih sebagai perwakilan.
Pada Juni, 1907, Duma II dibubarkan dan perwakilan buruh ditangkap serta dipenjarakan. Sejumlah anggota Bolshevik menyerukan boikot pada pemilihan Duma III. Lenin dan mayoritas anggota Bolshevik menolak boikot. Bolshevik segera memberikan beberapa nama anggota dan beberapa di antaranya terpilih. Duma III berakhir sampai pada tahun 1912, ketika diadakan seruan pemilihan Duma IV—Duma terakhir sebelum revolusi Februari, 1917.
Kampanye pemilihan Duma IV
Keterlibatan Bolshevik dalam Duma IV tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga. Hal itu ditulis dalam sebuah buku oleh salah satu anggota fraksi Bolshevik di Duma—yakni A.Badayev—yang diterbitkan di tahun 1929 dengan judul The Bolshevik in the Tsarist Duma (Bolshevik dalam Duma T’sar). Buku itu memberikan sumber utama bagi diskusi Bolshevik tentang taktik pemilihan.
Bolshevik memutuskan untuk mecalonkan beberapa kandidat dalam pemilihan Duma IV, meskipun kenyataannya bahwa Duma III patuh pada kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh T’sar. Bolshevik lebih berhati-hati ketika memutuskan untuk terlibat dalam pemilihan kali ini. Mereka tidak mempunyai harapan pada parlemen ini. Dalam majalah mereka, Pravda, ditulis seperti berikut ini:
“Keseluruhan kegiatan Duma negara diarahkan pada kepentingan kelas dari mayoritas anggotanya. Oleh karena itu, dalam lima tahun, Duma ‘efektif’ tidak dapat memberikan sebuah solusi bagi sejumlah persoalan yang merupakan persoalan penting negara. Segala usaha yang dilakukan oleh partai kiri, untuk menggambarkan aspek negatif dalam kehidupann di Rusia dan untuk mennggambarkan kepada mereka perhatian pada Negara, dibuat frustasi oleh suara-suara mayoritas yang dominan ...”
Hukum Pemilu diarahkan bagi kepentingan Black Hundreds, kelompok yang mendukung monarki, kekuatan pro-tuan tanah di Duma. Tak dapat disangkal lagi, bahwa kegiatan Duma IV akan diarahkan untuk menindas buruh.
Meskipun ada anggapan tersebut, Bolshevik memutuskan untuk mengambil bagian aktif dalam pemilihan Duma. Pengalaman mengajarkan pada Bolshevik bahwa pemilihan Duma dapat dimanfaatkan untuk melakukan propaganda. Fraksi Duma menjadi pusat pengorganisiran bagi partai di Rusia, dan kerja-kerja yang dilakukan di luar Duma merupakan hal yang sangat diperlukan untuk meningkatkan partai pada periode tersebut.
Pada tahu 1911, Lenin menganggap bahwa kampanye pemilihan Duma IV menjadi pusat propaganda offensif partai. Ia menulis:
“Pemilihan Duma IV dilaksakan pada tahun berikutnya. Pertama kali Partai sosial demokrat harus menyatakan kampanye pemilihan ini ... Propaganda yang intensif, agitasi, dan organisasi, yang merupakan aturan pada saat itu serta pemilihan yang akan datang, memberikan kewajaran, sesuatu yang tak dapat dielakan, ‘dalih’ topik bagi kerja-kerja.”
Keseriusan yang dilakukan oleh Bolshevik dalam kampanye Pemilu dapat digambarkan dalam buku Badayev yang berjudul The Bolshevik in the Tsarist Duma:
“Komite Pusat memusatkan secara khusus akan pentingnya Pemilu di St. Petersburg dan, kemudian, menginstruksikan organisasi di St. Petersburg untuk memperluas kerja-kerjanya seluas mungkin serta memobilisasi seluruh kekuatan partai untuk kampanye Pemilu. Komite St. Petersburg menyusun sebuah komisi untuk mengawasi Pemilu, dan daerah pemilihan di kota dialokasikan pada anggotanya..
Ia kemudian melanjutkan dengan detail, keterlibatan beberapa anggota, yakni dari pemimpin partai sampai anggota di pabrik.
Kampanye pemilihan Duma merupakan pusat kehidupan partai bagi Bolshevik. Hal itu terutama terjadi karena kerja kampanye merupakan kerja-kerja legal yang terbuka bagi Bolshevik. Tentu saja, calon Bolshevik, tidak dapat secara terbuka menyatakan dirinya sebagai sosialis. Secara umum, mereka menyatakan dirinya sebagai ‘kaum demokrat yang konsisten (setia)’.
Pada saat itu, perpecahan antara Bolshevik dan Menshevik belum terjadi secara formal. Ketika kedua fraksi bekerja secara terpisah, mereka dilihat oleh massa sebagai anggota partai yag satu, Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Oleh karena itu, melalui kerja-kerja kampanye, Bolshevik dapat menarik perbedaan garis revolusioner mereka dan pendekatan reformis yang dilakukan oleh Menshevik.
Platform Pemilihan Bolshevik dan Menshevik
Lenin menjelaskan tentang arti petingnya kerangka kerja pemilu—yang tidak dibuat khusus pada masa-masa pemilu, tetapi tumbuh dari program umum partai dan posisi partai yang tumbuh melalui pengalaman pada tahun-tahu sebelumnya. Ia menulis:
“Sering kali sangat bermanfaat, dan bahkan kadang-kadang merupakan sangat esensial, untuk memberikan sentuhan akhir kerangka kerja Pemilu Sosial-Demokrat dengan menambahkan slogan umum yang singkat, semboyan untuk memilih, membicarakan isu utama dalam kehidupan praktek politik yang terjadi, dan memberikan sebuah keyakinan serta dalih ..., sebagai sebuah persoalan, untuk propaganda sosialis secara keseluruhan. Dalam pendapat kami hanya tiga poin berikut ini dapat disusun menjadi semboyan, slogan umumyakni: (1) republik, (2) penyitaan (pengambilalihan) tanah negara, dan (3) delapan jam kerja.
Tuntutan tersebut dihubungkan dengan keputusan konferensi Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR) di Praha pada tahun 1912 dari. Selebihnya dari program partai dijadikan propaganda dan dihubungkan dengan ketiga slogan diatas.
Tiga slogan tersebut merumuskan tuntutan utama dari buruh dan petani Rusia. Delapan hari kerja merupakan tuntutan langsung perjuangan ekonomi kelas buruh. Tuntuan penyitaan tanah dari tuan tanah menjadi milik negara menawarkan solusi revolusioner mengenai problem agraria.
Slogan Republik muncul secara langsung dari persoalan kekuasaan politik. Slogan tersebut menggambarkan pandangan bahwa tak ada cara bagi kelas buruh untuk meningkatkan kesejahteraannya di bawah bentuk pemerintahan yang ada. Republik hanya akan menjadi kenyataan di Rusia melalui revolusi menghancurkan rejim T’sar.
Kemudian Bolshevik menghubungkan keseluruhan tuntutan yang lain dan kebijakan yang muncul dalam kampanye pemilu dengan pemikiran bahwa perubahan fundamental dalam tatanan politik memang diperlukan; yakni keinginan massa hanya dapat dipenuhi bila terjadi perubahan radikal kekuasaan negara.
Di sisi lain, program kampanye Menshevik, berputar isu tentang dua tuntutan: (1) kedaulatan anggota perwakilan dan (2) revisi peraturan agraria. Dua tuntutan ini merupakan penyesuaian taktik kerja-kerja legal mereka yang dijalankan dalam Duma. Sistem Pemilu dibuat sedemikian curang untuk menghasilkan Duma yang anggotanya mayoritas mengabdi pada kapitalis dan tuan tanah. Oleh karena itu kepentingan para buruh dan petani tidak dapat dipenuhi oleh Duma. Dengan kata lain, kerangka kerja Menshevik menyatakan bahwa sistem ini dapat memberikan hasil ketimbang diganti untuk mendapatkan hasil tersebut.
Bolshevik tidak tertarik untuk memberikan ilusi kepada massanya bahwa keinginan mereka dapat dipenuhi melalui sistem parlemen. Mereka menganggap kampenye pemilihan parlemen sebagai kesempatan untuk melakukan agitasi dan propaganda, sebagai salah satu alat mengorganisir massa untuk aksi menolak pemerintahan yang ada.
Sikap Bolshevik untuk melakukan aliansi
Sikap Bolshevik terhadap partai lain juga sangat jelas. Resolusi konferensi yang diadakan pada bulan Januari, 1912, menyatakan:
“... partai harus terus melakukan peperangan tanpa ampun terhadap otokrasi T’sar dan partai tuan tanah dan kaum kapitalis yang mendukung T’sar dan, pada saat yang sama, terus menerus membongkar pandangan kontra-revolusi dan demokrasi palsu dari kaum borjuis liberal (dalam anggapan mereka Partai Kadet—MS). Perhatian khusus harus diberikan pada kampanye pemilu untuk menjaga kemandirian partai proletariat dari pengaruh semua partai non-proletariat, untuk membongkar sifat dasar borjuis kecil tentang sosialisme-palsu dari kelompok demokrat (terutama Trudoviks, Narodniks, dan kaum sosialis-revolusioner), dan untuk membongkar kesalahan kerja yang mengakibatkan demokrasi berada dalam kebimbangan saat mereka memahami persoalan perjuangan massa revolusioner.
Pada saat yang sama, Bolshevik melakukan persiapan untuk melakukan aliansi Pemilu dengan partai borjuis kecil demokratik seperti Socialis Revolusioner dan, bahkan, dengan borjuis liberal melawan partai monarki, tetapi tetap menjaga kebebasan mereka untuk melakukann kritik terhadap kawan aliansi. Pada tahun 1920, dalam pamflet “Left-Wing” Communism—An Infantile Disorder (Komunis Kekiri-kirian—Suatu Penyakit Kekanak-kanakan), Lenin kembali menyatakan bahwa:
“Sebelum kejatuhan T’sar, Sosial-Demokrat Revolusioner Rusia berulangkali melayani kepentingan borjuis liberal, sebagai contoh, mereka banyak menandatangani praktek kompromis melalui surat ... sementara, pada saat yang sama, mampu secara terus menerus memerangi ideologi dan perjuangan politik borjuis liberal dan melawan .....pengaruh dalam gerakan kelas buruh. Bolshevik selalu setia dengan kebijakan tersebut. Sejak tahun 1905, mereka secara sistematis telah mendukung aliansi antara kelas buruh dan petani, dan sekali-kali tidak pernah menolak untuk mendukung borjuis melawan T’sar (terutama, selama masa periode kedua Pemilu, atau selama Pemilu II), namun tidak pernah menyerah pada kelemahan ideologi mereka dan perjuangan politik kaum Sosialis-Revolusioner, yakni partai petani borjuis revolusioner, borjuis kecil demokrat yang secara salah menggambarkan dirinya sebagai kaum sosialis. Selama masa pemilihan Duma pada tahun 1907, Bolsevik masuk dalam blok politik formal dengan kaum Sosialis-Revolusioner."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar